Nyanyian bel telah dibunyikan. Waktu istirahat telah tiba. Sebagian siswa berucap “Alhamdulillah” mensyukuri perjalanan waktu pagi setelah empat jam pelajaran banyak duduk di kursi untuk menerima pembelajaran. Pada umumnya waktu istirahat digunakan untuk menyegarkan kembali fisik dan mental sebagai periapan menerima pembelajaran berikutnya.

Terkesan mereka sudah mempunyai tempat masing-masing yang dianggap nyaman di sudut-sudut sekolah. Ada yang pergi ke kantin, dan banyak pula yang sengaja mempersiapkan makanan dari rumahnya. Hampir di setiap sudut sekolah terisi oleh kelompok-kelompok siswa yang memanfaatkan waktu istirahat.

Seperti biasanya Alfayedo, Tirsad, Aswyad, dan Sumwaka dalam mengisi istirahat memburu tempat di belakang Lab. IPA. Di sana sangat teduh karena ada pohon akasia yang sudah berumur puluhan tahun. Walau menuju ke kantin luar sekolah terhalang benteng sekolah, tetapi akses pesanan makanan terutama nasi kuning sangat mudah. Tepat di balik benteng tersebut ada pedagang nasi kuning dan makanan ringan lainnya. Siswa tinggal pesan dan makanan atau jajanan segera diasongkan melalui lubang yang seolah sengaja dibuat bagi keperluan jajanan siswa supaya tidak jauh berjalan meninggalkan area sekolah.

Di tempat itu Alfayedo, Tirsad, Aswyad, Sumwaka dan banyak siswa yang lainnya sering berkumpul. Mereka bercanda gurau membuat heboh dan sering menjadi pusat perhatian. Tak jarang sambil menyapa dan menggoda siswa perempuan yang ingin ke toilet. Karena tempat itu adalah salah satu akses menuju toilet perempuan.

Biasanya Alfayedo yang paling aktif berkata keras-keras, berdrama seolah memberi jasa bantuan menunjukkan dan mengantarkan  bagi yang ingin ke toilet. Tetapi beberapa hari ini, ia tidak banyak bicara. Suara yang kerasnya hilang. Pekerjaan dalam memberikan jasanya ditinggalkan. Ada suatu perubahan drastis yang terjadi pada diri Alfayedo.

“Alf, kamu sakit?” dengan suara yang lembut Astinyi menyapa Alfayedo yang lagi duduk melamun.

Alfayedo kaget. “ngak… eh enggak”. Jawab Alfayedo dengan gugup.

Astinyi tersenyum manis mendengar jawaban Alfayedo. “Ya, syukur kalau kamu sehat-sehat aja!”

Belum juga Astinyi membalikkan badan, ia penasaran dan bertanya kembali, “Apakah keluargamu sehat semua?”

(Astinyi adalah teman sekelasnya yang sering menjadi sasaran kejahilan Alfayedo. Astinyi pernah menangis gara-gara perlakuan Alfayedo yang keterlaluan).

Mendengar pertanyaan Astinyi yang kedua kalinya. Alfayedo tak menyia-nyiakan kesempatan emas. Sifat pemberani Alfayedo muncul dengan spontan.

“Duduk sebentar di sini, Ast!” pinta Alfayedo kepada Astinyi. “

Nggak, gak bisa. Aku harus ke perpustakaan sebentar.” Astinyi mencoba menghindar karena merasa takut dijahili.

“Sungguh aku tidak akan menggoda, menjahili atau melakukan perbuatan macam-macam.” Alfayedo memohon. “

Ya, lain kali aja ya!” Astinyi berusaha menghindar.

“Percayalah padaku. Aku ini lagi galau.” Alfayedo meyakinkan Astinyi.

“Memangnya ada apa dengan kamu tidak seperti biasanya?” Tanya Astinyi.

“Ya udah duduk dulu sebentar!” ajak Alfayedo.

Mereka duduk saling berhadapan. Alfayedo menjelaskan unek-uneknya.

“Begini Ast, aku ini kan dua hari yang lalu diumumkan oleh pak guru mendapat nilai Bahasa Inggris tertinggi di kelas. Jujur itu bukan pekerjaanku. LKS yang kuberikan kepada guru kemarin bukan LKS-ku. Tetapi aku menemukan LKS itu dari kelas lain sewaktu pelajaran praktik komputer di Lab. komputer. Aku belum mengerjakan tugas itu dan terpaksa aku berikan LKS yang ada dan itu bukan pekerjaan dan milikku… Aku sebenarnya tidak takut sama pak guru andai nanti ketahuan. Tetapi…” jelas Alfayedo yang tiba-tiba menghentikan pembicaraannya.

Sejenak mereka terdiam. Astinyi tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Mau langsung menyela bahwa perbuatan itu salah. Takutnya Alfayedo salah pengertian. Akhirnya Astinyi meminta Alfaedo untuk melanjutkan ceritanya.

“Tetapi bagaimana, Alf?” Tanya Astinyi.

“Begini, aku mendengar cerita bahwa orang memiliki cara untuk menghukum seseorang yang suka berbohong. Satu kali, dua kali, tiga kali aku berbohong. Mungkin orang masih percaya. Aku takut bahwa aku dicap oleh teman-teman, aku ini memiliki identitas tukang nyontek, tukang  mencari-cari pekerjaan orang lain untuk mendapatkan nilai yang tinggi. Nah bagaimana menurut kamu? Tanya Alfayedo.

Astinyi mengambil nafas. Selanjutnya ia mengemukakan pendapatnya, “Kalau menurut saya kejujuran lebih tinggi nilainya dari apa pun. Sebaiknya kamu berkata jujur saja kepada pak guru. Walau mungkin sangat pahit tetapi itu akan membebaskan rasa bersalahmu. Aku yakin pak guru punya cara yang bijaksana untuk menebus kejujuranmu. Aku siap membantu kamu. Karena aku yakin kamu memiliki kemampuan lebih dalam speaking walau dalam writing terlihat kamu kurang berusaha. Sebenarnya kelas tidak begitu heran kamu diumumkan mendapat nilai terbagus setelah melihat speaking kamu. Udah aja nilai itu minta diganti dengan ujian susulan. Kamu siap diuji dalam speaking…. Jangan marah ya andai masukanku tidak sependapat dengan kamu!”

“Gak marah kok. Pandangan kamu sangat bagus kok. Hampir sama dengan yang aku pikirkan. Sudah dari kemarin aku ingin menemui pak guru. Tetapi langkahku terasa kaku kalau diajak kepada yang lebih baik.” Jelas Alfayedo.

“Udah sebentar lagi bel masuk. Nanti jam terakhir kita temui pak guru Bahasa Inggris. Supaya besok ketika pelajaran Bahasa Inggris kamu tidak terlihat murung lagi.” Astinyi mengakhiri pembicaraannya sambil berdiri menuju kelas.

Cerpen: Mengapa Harus berdusta?   di dini ….

Kecilnyaaku,  28 Desember 2016

Facebook Comments