Tirad dan Aswad adalah dua sahabat yang tidak bisa terpisahkan. Walau Tirad tahu kelemahan temannya yang suka berdusta tetapi mereka sering bermain bersama.

Keduanya tinggal di kampung Bedog Mintul suatu kampung yang sebenarnya sangat indah dan sejuk dengan panorama pesawahan di pinggiran hutan yang juga terbentang sungai dengan mata air yang jernih. Selain mereka tinggal sekampung, mereka pun bersekolah pada sekolah yang sama.

Suatu hari Aswad disuruh ke depan kelas oleh Pak guru.

Pak guru bertanya, “Aswad, kamu tahu tidak siapa yang suka mencoret-coret dinding kelas?”

Aswad menjawab, “Bukan Pak. Bukan saya yang mencoret-coret dinding kelas.”

“Bapak tidak menuduh kamu. Ibu bertanya Aswad. kamu tahu tidak orang yang mencoret-coret dinding kelas ini? Dengan tenang pak guru menjelaskan maksudnya.

“Bukan saya Pak yang mencoret-coret dinding kelas. Aku berani bersumpah Pak!” jawab Aswad.

“Lantas siapa?” Tanya pak guru.

“Mungkin Tirad, Pak.” Dengan mudahnya Aswad menuduh temannya yang tidak tahu apa-apa.

Spontan seluruh mata tertuju melihat Tirad. Muka Tirad memerah mendengar tuduhan Aswad.

“Tirad, bawa buku catatan kamu ke depan!” perintah pak guru kepada Tirad.

Tirad menuju ke depan kelas dengan perasaan kesal dan malu. Tirad membantah apa yang dituduhkan Aswad kepadanya. “Bukan saya Pak yang mencoret-coret dinding.”

Aswad mengepalkan tangan dan ditujukan kepada Tirad.

“Awas kamu Aswad!” dengan melotot Tirad mengancam Aswad.

“Diam kamu berdua!” bentak pak guru.

“Tirad, silahkan tulis di papan tulis: Janganlah kamu sekali-kali berdusta!” perintah pak guru kepada Aswad.

Tirad pun mengambil spidol untuk memulai menulis seperti yang diperintahkan pak guru. Sementara Aswad disuruh untuk mengambil buku catatannya.

Setelah Tirad selesai menulis. “Ayo giliran kamu Aswad yang menulis di papan tulis. lanjutkan tulis: Sesungguhnya berdusta itu adalah sejelek-jeleknya perkataan.”

Selesai Aswad menulis, Pak guru memerintahkan, “Silahkan baca, apa yang Tirad dan kamu tulis!” Aswad membacakan. “Janganlah kamu sekali-kali berdusta, sesungguhnya berdusta itu adalah sejelek-jeleknya perkataan.”

“Yo, kamu duduk kembali!” perintah pak guru kepada Aswad dan Tirad.

“Sekarang giliran kalian yang menilai, coba bandingkan tulisan di papan tulis ini dengan tulisan di dinding! mana yang paling mirip?” tugas pak guru kepada seluruh kelas.

Ternyata seratus persen siswa menjawab bahwa tulisan yang di dinding sama persis dengan tulisan Aswad di papan tulis.

“Sekarang tugas kamu Aswad, ini buku catatan Temanmu. coba bandingkan apakah bentuk tulisan yang ada di buku ini dan bentuk tulisan tirad di papan tulis mirip dengan tulisan yang ada di dinding?” tanya pak guru kepada Aswad.

Dengan rasa malu dia menjawab, “Tidak.”

“Tidak bagaimana?” Tanya pak guru.

“Tidak sama, Pak.” Jawab Aswad.

“Lantas, mengapa kamu tadi mengatakan yang mencoret-coret dinding adalah Tirad?” Tanya pak guru kembali.

“Iya Pak, saya menyesal telah menuduh teman saya.” Jelas Aswad.

“Mengapa kamu jadi menyesal seperti itu? tanya pak guru..

“Saya telah bersalah, Pak. Saya minta ma’af !” jawab Aswad.

“Bukan kepada Bapak, kamu harus minta ma’af. Bapak bangga karena kamu sudah menyadari kesalahan. Tetapi Bapak jadi punya tugas berat. Kamu sudah mencoret-coret dinding, tidak mengakui perbuatan yang telah kamu lakukan dengan berdusta, ditambah lagi kamu dengan gampangnya menuduh temanmu sendiri untuk menutupi dusta kamu. Jangan diulangi lagi ya! Perbuatan ini yang terakhir untuk kamu ya!” jelas pak guru kepada Aswad.

“Iya Pak, saya janji.” Jawab Aswad.

Setelah Aswad meminta ma’af terutama kepada Tirad. Lebih lanjutnya pak guru menjelaskan bahwa berdusta itu ibarat kotoran. Ditutupi dengan apa saja yang namanya kotoran baunya tetap akan tercium. Andai perkataan pertama kita sudah berdusta, maka untuk menutupi dustanya harus ditutupi lagi dengan dusta. Dan untuk menutupi dusta lagi itu akan ditutup dengan dusta lagi. Begitu seterusnya. Dan suatu saat orang lain akan tahu dan tidak percaya kepada orang yang dicap pendusta.

Dusta adalah kotoran mulut dan hati. Dusta bukan ditutupi dengan dusta, tetapi harus dibersihkan dengan belajar berusaha berkata dan bersikap jujur. Tak pernah ada orang dimakan harimau karena ia telah berkata jujur.

Demikianlah pak guru mengakhiri penjelasannya.

Cerpen: Panas Matahari dan Tiupan Angin: di sini ….
Facebook Comments

Share This Article