Hari itu dari pagi sampai siang hari cuaca terasa begitu panas. Seiring bertambahnya laju detak waktu langit pun semakin siang semakin membiru, tak terlihat awan berarak di sekitarnya. Sang raja siang  melaksanakan tugas pengembaraannya dengan sempurna. Sinar panas yang dipancarkannya hampir tak terhalang menembus bumi yang genah.

Aswad yang kurang biasa berlama-lama di luar rumah. Pada hari itu dipaksa memperbaiki sepeda anaknya. Teras rumahnya berhadapan langsung dengan datangnya sang surya. Dan tatkala sang surya mulai menyapa dengan kehangatannya, ia bersemangat mempersiapkan alat-alat layaknya seorang bengkel dengan secangkir kopi kental dan sebatang rokok yang terus berasap dari mulutnya.

Belum juga dipertengahan siang, badannya sudah mulai bergetah dengan cucuran keringat. Ia merasa gerah. Baju yang melekat mulai dibukanya tinggal kolor tipis yang melekat pada badannya. “Duh cuaca hari ini panas.” Ia berkomentar tentang cuaca yang dirasakannya. Sesekali ia duduk sambil mengipas-ngipaskan buku kecil pada badannya. Mulutnya  mulai tak berhenti memaki cuaca yang panas. Tak terhitung entah berapa kali ia mengucapkan, “Panas sekali… sangat panas…”

Merasakan sengatan matahari yang menuju kepadanya. Aswad mulai sibuk memanggil-manggil istrinya. “Ambilkan tali!” teriaknya.

“Untuk apa?” istrinya bertanya.

“Eh, kamu gak lihat, aku ini kepanasan dari tadi.” Bentak Aswad.

Istrinya mengerti bahwa suaminya ingin membuat tirai untuk menghalangi sinar matahari. Tali yang dimintanya bukan digunakan untuk hal lain. Dengan susah payah istrinya mencari tali. Setelah ditemukan, Aswad pun memasangkan tali tersebut di antara dua tiang rumah. Istrinya membantu memasangkan handuk, sarung, dan selimut pada tali tersebut hingga teras tempat Aswad bekerja menjadi teduh.

Semenara di depan rumah Aswad ada Pak Tirad seorang tukang bangunan yang sudah beberapa hari memasangkan atap genting dengan beberapa orang pekerja lain yang membantunya. Pak Tirad dengan tekunnya bekerja. Cuaca panas seolah  tak dirasakannya, santai saja ia di atas atap yang sedang dibangunnya. Tak terlihat mengeluh sama sekali dengan panasnya cuaca. Ia tidak buka-bukaan baju, malah bajunya dua rangkap dengan kaos dan kemeja tangan panjangnya, kepalanya dibalut kain lain dan celanaya pun memakai celana panjang.

Sesekali Aswad memandang Pak Tirad dan teman-temannya. Mereka bekerja tanpa menunjukkan wajah protes terhadap teriknya matahari. Sesekali terlihat mereka bekerja sambil bercanda gurau. Awalnya Aswad berpikir biasa saja melihat mereka karena mereka biasa bekerja dengan kondisi seperti itu. Tetapi lama kelamaan ia mulai merenung. “Dalam kondisi yang sama, mengapa aku sangat gusar dengan cuaca panas walau sudah ada peneduh sedang mereka  terlihat santai dengan panas tersebut? Gumam Aswad kepada dirinya.

“Mengapa aku dari tadi tidak sadar ketika irama angin datang berhembus silih berganti?” lagi-lagi ia bertanya pada dirinya. Sungguh Tuhan Maha Sempurna dalam penciptaannya. Tuhan menciptakan terik matahari dan Tuhan pun menciptakan tiupan angin yang diperuntukkan dengan gratis bagi kebutuhan manusia. Suatu keseimbangan dalam pilihan. Syukur atau mendustakan nikmat?

Dalam benak Aswad terus terukir pandangan: Mungkin Pak Tukang bangunan diberikan kekuatan dengan panas. Karena pada waktu itu ia lebih memilih menikmati dan merasakan tiupan angin yang menyegarkan di samping menikmati panas matahari?

Dengan panas matahari, padi yang sedang dijemur menjadi kering yang dengan melalui proses seperti itu padi bisa ditumbuk, dimasak dan dimakan. Pakaian yang dijemur bisa kering kembali dan bisa dimanfaatkan untuk dipakai kembali tanpa harus membuangnya dan diganti dengan membeli terus pakaian baru dari toko. Buah-buahan yang ada pada tumbuhan dapat menuju kepada proses kematangannya yang dengannya banyak menghasilkan berbagai vitamin yang berguna bagi kebutuhan tubuh.

Mungkin ada yang berpendapat tanpa panas matahari pun padi dan pakaian bisa kering dengan suatu teknologi. Jasa matahari digantikan dengan jasa teknologi. Tetapi yang menjadi pertanyaan Aswad selanjutnya, “Apakah sama matahari dengan teknologi? Siapakah yang menciptakan dan bagaimana proses kerjanya? Adakah perbandingan keunggulan dan kelemahannya?

Rasanya sangat betul selayaknya tidak lupa bersyukur.

Cerpen: Ayah, Ibu … Banjir! : di sini ….

 

kecilnyaaku, 26 Desember 2016

Facebook Comments
style type="text/css"> #main-header .et_mobile_menu .menu-item-has-children > a { background-color: transparent; position: relative; } #main-header .et_mobile_menu .menu-item-has-children > a:after { font-family: 'ETmodules'; text-align: center; speak: none; font-weight: normal; font-variant: normal; text-transform: none; -webkit-font-smoothing: antialiased; position: absolute; } #main-header .et_mobile_menu .menu-item-has-children > a:after { font-size: 16px; content: '\4c'; top: 13px; right: 10px; } #main-header .et_mobile_menu .menu-item-has-children.visible > a:after { content: '\4d'; } #main-header .et_mobile_menu ul.sub-menu { display: none !important; visibility: hidden !important; transition: all 1.5s ease-in-out;} #main-header .et_mobile_menu .visible > ul.sub-menu { display: block !important; visibility: visible !important; }