Pada postingan sebelumnya telah dikutif beberapa ayat yang menjelaskan tentang warisan. Beberapa teman juga sama-sama ingin memahami Hukum Waris Menurut Islam. Dalam Tafsir Al-Qur’an dijelaskan bahwa:

Jika ada pertanyaan, “Apakah hukum warisan pembunuh, budak, orang yang berbeda agama, muba’adh (budak yang separuh dirinya merdeka), khunta (banci), kakek bersama saudara-saudara bukan seibu, ‘aul, radd, dzawul arham, ‘ashabah lainnya, saudari-saudari tidak seibu beserta anak perempuan atau puteri dari anak laki-laki bisa diambil dari Al Qur’an?” Jawab: “Ya, di dalam Al Qur’an terdapat isyarat yang halus yang memang agak sulit dipahami bagi orang yang kurang cermat. Tetapi di sana ada yang menunjukkan demikian.

Tentang pembunuh dan orang yang berlainan agama, keduanya tidak mendapatkan warisan berdasarkan penjelasan hikmah Ilahi yang membagikan harta kepada ahli waris sesuai kedekatan mereka dan manfaat bagi mereka baik manfaat agama maupun dunia. Hikmah ini diisyaratkan oleh firman Allah, “Laa tadruuna ayyuhum aqrabu lakum naf’aa” (kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih banyak manfaatnya bagimu). Kita mengetaui bahwa seorang pembunuh berusaha menimpakan bahaya, sehingga tidak ada dalam dirinya sesuatu yang mendorong untuk diberi warisan, di samping itu, dalam pembunuhan memutuskan tali silaturrahim, dan lagi ada kaidah “Manis ta’jala qabla awaanihi ‘uuqiba bihirmaanih” (Barang siapa yang terburu-buru sebelum tiba waktunya, maka ia diberi hukuman dengan tidak memperolehnya). Adapun tentang berlainan agama, Ibnul Qayyim berkata dalam Jalaa’ul Afhaam, “Perhatikanlah makna ini dalam ayat tentang warisan dan pengkaitan dari Allah Subhaanahu wa Ta’aala terhadap waris-mewarisi dengan lafaz zaujah (istri), tidak dengan lafaz mar’ah (wanita) sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala, “Wa lakum nishfu maa taraka azwaajukum” (untuk kamu separuh dari harta yang ditinggalkan istri-istrimu) sebagai pemberitahuan bahwa waris-mewarisi hanyalah terjadi jika terjalin hubungan pernikahan yang menghendaki kesamaan dan keserasian. Orang mukmin dan orang kafir tidaklah sama dan tidak serasi, sehingga tidak mungkin terjadi antara keduanya saling waris-mewarisi. Rahasia satuan kata dalam Al Qur’an dan gabungannya dengan kata yang lain memang berada di atas akal seluruh makhluk.”

Adapun budak, maka ia tidaklah mewarisi dan tidak pula diwarisi. Keadaannya tidak diwarisi adalah jelas, karena memang ia tidak memiliki harta untuk diwarisi, bahkan apa yang ada padanya semuanya untuk tuannya. Adapun keadaannya tidak mewarisi adalah karena ia tidak memiliki, kalau pun memiliki, maka itu untuk tuannya. Dengan demikian, budak adalah orang ajnabiy (asing) bagi si mati. Ayat “Wa lakum nishfu maa taraka azwaajukum” (dan untuk kamu separuh dari harta yang ditinggalkan istrimu) diperuntukkan bagi orang yang siap memiliki, adapun budak tidak demikian. Dari sini diketahui, bahwa budak tidak mewarisi.

Adapun orang yang dalam dirinya terdapat separuh budak dan separuh merdeka (muba’adh), maka hukumnya terbagi dua. Bagian dirinya yang merdeka berhak mendapatkan warisan, sedangkan bagiannya yang masih budak, tidak mendapatkan warisan. Dengan demikian, hartanya dibagi dua, ia mewarisi dan diwarisi, namun dihalangi sesuai kebudakan yang ada dalam dirinya.

Adapun khuntsa (banci), maka tidak lepas dari kemungkinan diketahui apakah ia laki-laki atau wanita atau kemungkinan musykjil (samar). Jika diketahui laki-laki atau perempuan, maka masalahnya beres, namun jika musykil (misalnya memiliki kelamin ganda), maka jika bagian warisannya tidak berubah baik ia sebagai laki-laki atau perempuan –seperti halnya saudara seibu, maka masalahnya jelas. Namun jika bagiannya berbeda jika ditentukan sebagai laki-laki atau perempuan, di antara ulama ada yang berpendapat dengan memperhatikan dari mana air kencingnya keluar. Jika tidak bisa, maka dengan memperhatikan tanda kedewasaannya (tanda bagi laki-laki misalnya tumbuh janggut dan kumis, suara besar dsb. sedangkan tanda bagi perempuan misalnya tumbuh buah dada, haidh, hamil, dsb.), namun jika tidak berhasil juga dan tidak ada cara untuk mengetahuinya, maka kita tidak memberikannya bagian yang terbesar dari dua kemungkinan (laki-laki atau perempuan) dan tidak memberikan sedikit, bahkan sisanya ditunda sampai keadaannya jelas. Atau jika terus menerus tidak jelas, maka dengan jalan tengah, yakni memberikan bagian pertengahan di antara dua kemungkinan, berdasarkan ayat, “I’diluu huwa aqrabu lit taqwa” (berbuat adillah, karena ia lebih dekat kepada takwa), dan Allah tidak membebani kecuali sesuai dengan kesanggupan kita.

Adapun bagian kakek bersama beberapa saudara sekandung atau sebapak, yakni apakah saudara tersebut mewarisi bersamanya atau tidak, maka Al Qur’an lebih menunjukkan kepada pendapat Abu Bakar Ash Shiddiq, yakni bahwa kakek menghalangi saudara sekandung atau sebapak atau pun saudara seibu sebagaimana bapak menghalangi mereka. Hal ini, karena kakek dianggap sebagai bapak dalam beberapa ayat Al Qur’an, seperti di surat Al Baqarah: 133 dan surat Yusuf ayat 38. Jika cucu saja dianggap sebagai anak, maka kakek pun sama dianggap bapak. Para ulama juga sepakat bahwa jika kakek bagi bapak bersama putera dari saudara, maka kakek menghalangi putera dari saudara tersebut.

Adapun tentang ‘aul, maka hukumnya juga diambil dari Al Qur’an, yaitu karena Allah Ta’ala juga menetapkan untuk para ahli waris bagiannya, dan mereka itu berada di antara dua kemungkinan:

  1. Bisa berupa saling menghalangi antara satu dengan yang lain. Jika seperti ini, maka yang dihalangi gugur, tidak dapat mendesak dan memperoleh apa-apa.
  2. Namun jika tidak menghalangi satu sama lain, maka bisa berupa orang-orang yang mendapat bagian tertentu tidak menghabisi tarikah (harta peninggalan) dan masih ada sisa untuk ‘ashabah, atau menghabisi tanpa ditambah dan dikurang atau bagiannya dinaikkan terhadap tarikah. Dalam dua keadaan yang pertama, masing-masing mengambil jatahnya secara sempurna, sedangkan untuk keadaan yang terakhir, yakni ketika bagiannya terhadap tarikah dinaikkan, maka keadaan ini pun tidak lepas dari dua keadaan:

– Kita mengurangi bagian sebagian ahli waris dan kita sempurnakan yang lain bagiannya, namun hal ini tidak tepat, karena sebagian mereka tidak lebih berhak daripada yang lain. Atau,

– Kita berikan bagian masing-masing semampunya, yaitu menaikkan bagian atau fardhnya.

Contoh: harta peninggalan si mati senilai 840.000,00, ahli waris terdiri dari suami, saudari kandung dan saudari seibu, maka:

Ahli waris
Fardh
AM = 6 (KPK dari 2,2 & 6)
Suami ½ x 6 3
Saudari kandung ½ x 6 3
Saudari seibu 1/6 x 6 1
Anda dapat melihat jumlah 3 + 3 + 1 = 7 melebihi asal masalah, maka cara pembagiannya tidak 3/6, 3/6 dan 1/6, tetapi menjadi 3/7, 3/7 dan 1/7. dengan ini selesailah masalahnya:

3/7 x 84.000 = 36.000

3/7 x 84.000 = 36.000

1/7 x 84.000 = 12.000

Lihat! 36.000 + 36.000 + 12.000 = 84.000

Habis bukan harta tersebut dan dapat dibagi secara adil. Inilah yang disebut dengan ‘Aul. Jika tidak di’aul tentu masih ada sisa.

Kebalikan dari ‘aul adalah radd, yakni ketika orang yang mendapat bagian tertentu tidak menghabisi tarikah, dan masih ada sisa, di samping itu tidak ada ‘ashabah yang dekat maupun jauh. Jika sisa tersebut diberikan kepada yang bukan kerabat si mati, maka hal tersebut merupakan kezaliman serta bertentang dengan ayat “Wa ulul arhaami ba’dhuhum awlaa biba’dhin fii kitaabillah” (surat Al Anfal: 75), maka tidak ada jalan lain selain mengembalikan kepada pemilik bagian (as-habul furudh). Kebanyakan ulama yang memegang radd berpendapat bahwa suami atau istri tidak berhak mendapatkan radd, namun yang lain berpendapat bahwa suami atau istri juga berhak mendapatkan radd.

Contoh radd: Hukum Waris
Contoh: Harta peninggalan Rp. 36.000,00 , ahli waris: saudari sekandung, saudari seayah dan ibu. Maka:
Ahli waris Fardh AM = 6 menjadi 5 Dari 36.000,00
Saudari kandung ½ 3/5 x 36.000 21.600
Saudari seayah 1/6 1/5 x 36.000 7.200
Ibu 1/6 1/5 x 36.000 7.200

Menjadi 5, karena jumlah 3 + 1 + 1 = 5.

Dari sini diketahui pula masalah Dzawul arham, yakni ketika si mati tidak meninggalkan as-habul furudh, demikian pula tidak meninggalkan ‘ashabah, maka harta itu bisa diserahkan kepada Baitul Maal untuk manfaat orang lain atau diberikan kepada kerabat yang disebut dzawul arham. Hal ini berdasarkan ayat, “Wa ulul arhaam ba’dhuhum awlaa biba’dhin…dst.” Oleh karenanya memberikan kepada orang lain padahal masih ada yang lebih dekat kepada si mati (yaitu Dzawul arham) sama saja memberikan kepada orang yang kurang berhak. Karena pembagian mereka tidak ada ketentuannya dalam kitab Allah, namun antara mereka dengan si mati ada perantara yang karenanya mereka tergolong kerabat, maka diposisikanlah mereka sesuai perantara yang menjadi perantara kepada si mati, inilah yang disebut dengan tanzil. Misalnya bibi dari pihak ayah dianggap sebagai pengganti ayah. Ia mewarisi sesuai bagian yang didapatkan ayah. Demikian pula bibi dari pihak ibu, ia mewarisi bagian ibu, dan diperlakukan layaknya ibu dalam warisan.

Adapun tentang warisan ‘ashabah, seperti bunuwwah (anak), ubuwwah (bapak), ukhuwwah (saudara dan anak-anaknya) dan umumah (paman dan anak-anaknya), maka hal ini ditunjukkan oleh hadits “Berikanlah bagian ashabul furudh, sisanya untuk laki-laki yang lebih dekat.” Sehingga jika ada sisa, maka diberikan kepada mereka sesuai urutan tersebut, dan yang terakhir setelah paman dan anak-anaknya jika tidak ada, maka yang mewarisinya adalah yang memerdekakan atau disebut wala’. Jika ‘ashabah tersebut dalam posisi yang sama, maka didahulukan yang lebih kuat, misalnya saudara sekandung dengan saudara seayah, maka saudara sekandung lebih didahulukan daripada saudara seayah. Jika sama kuatnya, maka mereka mengambil secara bersama-sama.

Adapun tentang beberapa saudari tidak seibu (yakni saudari sekandung atau sebapak) bersama dengan beberapa orang anak perempuan atau beberapa orang puteri dari anak laki-laki sebagai ‘ashabah ma’a gharih yang mengambil sisanya, maka karena di dalam Al Qur’an tidak ada ayat yang menunjukkan bahwa saudari-saudari tersebut gugur karena puteri. Dengan demikian, setelah anak perempuan mengambil bagiannya, maka sisanya diberikan kepada para saudari, tidak kepada ‘ashabah yang lebih jauh yaitu anak dari saudara laki-laki dan paman atau ‘ashabah lainnya lebih jauh, Hukum

Wallahu a’lam. Semoga bermanfaa1             

Sumber: http://www.tafsir.web.id/2013/01/html#sthash.YG9679gN.dpuf

Ahli Waris Pihak Laki-laki dan Perempuan: di sini ....
Facebook Comments