Islam sangat memerhatikan keindahan. Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan dan Dia bersih dan menyukai kebersihan.” Subhanallah, salah seorang sahabat saya bertanya tentang mewarnai rambut. Sebelumnya saya ingin menyampaikan, bahwa saya merasa terhormat tetapi belum layak Artinya apa yang saya sampaikan ini sebaiknya ditanyakan ulang kepada guru-guru kita. Walau demikian, saya akan mencoba mengutif beberapa hadits tentang menyemir rambut. Semoga bermanfaat. Rasulullah SAW. Bersabda:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

عن عمرو بن شعيب عن أبيه  عن جده أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : لا تنتفوا الشيب , فإنه نور المسلم , ما من مسلم يشيب شيبة في الإسلام إلا كتب الله له بها درجة , وحط عنه بها خطيئة (رواه أحمد و أبو داود)

“Janganlah kamu mencabut ubanmu, karena uban itu adalah cahaya bagi seorang muslim, tidaklah didapati bagi seorang muslim yang memiliki uban di kepalanya, melainkan Allah Swt telah mencatatnya berupa kebaikan, diangkat derajatnya, dan dihapuskan akan kesalahannya”. (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

غَيِّرُوا هَذَا بِشَيْءٍ وَاجْتَنِبُوا السَّوَادَ

Ubahlah uban ini dengan sesuatu, tetapi hindarilah warna hitam.” (HR. Muslim).

غَيِّرُوا الشَّيْبَ وَلاَ تَشَبَّهُوا بِالْيَهُودِ (رواه النسائي، والترمذي

“Ubahlah (warna) uban dan jangan serupakan Yahudi.” (HR. Nasai danTirmizi)

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَكُونُ قَوْمٌ يَخْضِبُونَ فِي آخِرِ الزَّمَانِ بِالسَّوَادِ كَحَوَاصِلِ الْحَمَامِ لَا يَرِيحُونَ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ

“Pada akhir zaman nanti akan muncul suatu kaum yang bersemir dengan warna hitam seperti tembolok merpati. Mereka itu tidak akan mencium bau surga.” (HR. Abu Daud)

“Dari Jabir bin Abdullah berkata: Abu Quhafah (ayahanda Abubakar Shiddiq r.a) datang kepada Rasulullah Saw pada hari penaklukan kota Makkah, beliau mengadukan tentang keadaan rambutnya yang sudah penuh uban yang memutih. Rasulullah Saw berkata: pergilah kalian (untuk mewarnai rambut) untuk menunjukkan diantara isteri-isterinya, warnailah rambut dengan warna apa saja, namun hindarilah dari pewarna hitam” (HR. Jama’ah kecuali Imam Bukhari dan At Turmudzi)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى لَا يَصْبُغُونَ فَخَالِفُوهُمْ

“Sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak menyemir uban mereka, maka selisilah mereka.” (Muttafaqun ‘alaihi, HR. Bukhari dan Muslim)

Abu Malik Asy-ja’iy dari ayahnya, beliau berkata,

كَانَ خِضَابُنَا مَعَ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْوَرْسَ وَالزَّعْفَرَانَ

“Dulu kami menyemir uban kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan wars dan za’faron”. (HR. Ahmad dan Al Bazzar. Periwayatnya adalah periwayat kitab shahih selain Bakr bin ‘Isa, namun dia adalah tsiqoh –terpercaya-).
Al Hakam bin ‘Amr mengatakan,

دَخَلْتُ أَنَا وَأَخِي رَافِعٌ عَلَى أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ عُمَرَ ، وَأَنَا مَخْضُوبٌ بِالْحِنَّاءِ ، وَأَخِي مَخْضُوبٌ بِالصُّفْرَةِ ، فَقَال عُمَرُ : هَذَا خِضَابُ الإِْسْلاَمِ . وَقَال لأَِخِي رَافِعٍ : هَذَا خِضَابُ الإِْيمَانِ

“Aku dan saudaraku Rofi’ pernah menemui Amirul Mu’minin ‘Umar (bin Khaththab). Aku sendiri menyemir ubanku dengan hinaa’ (pacar). Saudaraku menyemirnya dengan shufroh (yang menghasilkan warna kuning). ‘Umar lalu berkata: Inilah semiran Islam. ‘Umar pun berkata pada saudaraku Rofi’: Ini adalah semiran iman.” (HR. Ahmad. Di dalamnya ada ‘Abdurrahman bin Habib. Ibnu Ma’in mentsiqohkannya. Ahmad mendho’ifkannya. Namun periwayat lainnya adalah periwayat yang tsiqoh. Lihat Majma’ Az Zawa’id)

Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَحْسَنَ مَا غَيَّرْتُمْ بِهِ الشَّيْبَ الْحِنَّاءُ وَالْكَتَمُ

“Sesungguhnya bahan yang terbaik yang kalian gunakan untuk menyemir uban adalah hinna’ (pacar) dan katm (inai).” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan An Nasa’i. Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Ada yang menyebutkan hinna‘ adalah pewarna rambut berwarna merah sedangkan katam adalah pohon Yaman yang mengeluarkan zat pewarna hitam kemerah-merahan.

Dengan demikian, maka menyemir rambut tanpa adanya uban tidak termasuk sunah dan tidak dianggap sebagai meneladani, karena tidak ada tuntutan untuk itu dan tidak ada maslahat syar’iah karena menyemir uban.

Dalam islam mewarnai rambut bukan didorong untuk mengikuti tren atau meniru mode yang menuntun kepada perbuatan tasyabuh atau meniru-niru/menyerupai kaum selain islam. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR. Ahmad dan Abu Dawud.)

Wallahu a’lam.

Terima kasih. Wassalamu’alaikum wr. Wbr.

Model Pembelajaran Luqman kepada Anaknya: di sini ….
Facebook Comments