Dalam  Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 50 Tahun 2015 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa: Bentuk ulang ditulis dengan menggunakan tanda hubung (-) di antara unsur-unsurnya.
Misalnya:

anak-anak
biri-biri
lauk-pauk
berjalan-jalan
buku-buku
cumi-cumi
mondar-mandir
mencari-cari
hati-hati
kupu-kupu
ramah-tamah
terus-menerus
kuda-kuda
kura-kura
sayur-mayur
porak-poranda
mata-mata
ubun-ubun
serba-serbi
tunggang-langgang

Catatan:
Bentuk ulang gabungan kata ditulis dengan mengulang unsur pertama.
Misalnya:

surat kabar:  surat-surat kabar
kapal barang:  kapal-kapal barang
rak buku: rak-rak buku
kereta api cepat:  kereta-kereta api cepat

Dari contoh di atas. Kita coba kelompokkan berdasarkan kesamaan pola.

Pola 1 Pola 2
anak-anak
biri-biribuku-buku
lauk-pauk
mondar-mandirramah-tamah

sayur-mayur
porak-poranda

serba-serbi

tunggang-langgang

Pola 3 Pola 4
berjalan-jalan
mencari-cari
terus-menerus
cumi-cumi

hati-hati
kupu-kupu

kuda-kuda
kura-kura

mata-mata
ubun-ubun

Pola 1, seluruh bentuk dasarnya diulang. Maka disebut bentuk ulang sempurna atau dwilingga.

Pola 2, bentuk ulang mengalami perubahan bunyi atau memiliki variasi fonem. Maka disebut bentuk ulang berubah bunyi.

Pola 3, bentuk ulang mendapatkan imbuhan. Maka disebut pengulangan berimbuhan.

Pola 4, terdapat bentuk bebas/ semu yang hadir dalam bentuk ulang. Maka disebut bentuk semu ulang. Apabila dilihat dari bentuknya, bentuk semu ulang itu memang diucapkan dua kali, tetapi perulangan tersebut tidak menunjukkan intensitas, baik kualitas maupun kuantitas. Jika dinyatakan dalam jumlah tertentu, maka penunjuk jumlahnya dinyatakan tersendiri, misalnya banyak kunang-kunang.

Selain itu ada pengulangan bagian suku depan atau dwipurwa.

Misalnya:

pohon        pohon-pohon         pepohon

sama          sama-sama             sesama

berapa        berapa-berapa        beberapa

Jadi dapat disimpulkan bahwa bentuk ulang adalah kata atau morfem yang penyebutannya dua kali.

Tetapi kalau ada orang yang berteriak, “maling, maling.” tidak disebut bentuk ulang. Tetapi lebih tepat disebut ulangan kata.

Catatan

Pengulangan pada prinsipnya tidak mengubah bentuk dasar. Jika dikembalikan pada bentuk dasarnya, maka kedua bentuk tersebut, baik bentuk, bunyi, maupun artinya sama.

Apabila pengulangan itu berjenis kata benda misalnya, maka bentuk dasarnya pun kata benda pula. Dengan demikian dihasilkan pola-pola bentuk ulang:

KB-KB           :  rumah-rumah

KK-KK           :  makan-makan

KS-KS            :  cantik-cantik

Pengulangan mengubah salah satu bentuk dasar. Bentuk ini, jika dikembalikan pada bentuk dasarnya, salah satu bentuk dasarnya bersifat unik, tidak mengandung arti.

Misalnya:

beras-beras      beras, petas

sayur-sayur      sayur, mayur

lauk-lauk         lauk, pauk

Satu hal lagi yang tidak terdapat dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia di atas, untuk bentuk ulang yang berasal dari bentuk senyawa, maka diulang seluruhnya.

Misalnya: matahari-matahari, orangtua-orangtua.

Arti Perulangan
banyak dan tidak tentu kursi-kursi

sekolah-sekolah

bermacam-macam/ banyak macam sayur-mayur

padi-padian

benda menyerupai aslinya mobil-mobilan

anak-anakan

perbuatan menyerupai tugas/ jabatan aslinya/ perbuatan menirukan Kucing-kucingan

Dokter-dokteran

mengandung sifat/ serba Putih-putih

Kehijau-hijauan

kumpulan, terdiri dari ilmu-ilmu

satu-satu

sangat/ intensitas kualitas/ sangat …./ …sekali/ serba banyak-banyak

besar-besar

hanya/ intensitas tingkat paling satu-satunya

sekuat-kuatnya

perbuatan berbalasan/ saling sikut-menyikut

berpukul-pukulan

perbuatan tak tentu duduk-duduk

makan-makan

paling/ sangat sebesar-besarnya

seputih-putihnya

Kata Majemuk: di sini ….
Facebook Comments