Setelah mempelajari pembahasan ini, semoga kita lebih memahami pemakaian Tanda Petik (“…”) dan Tanda Petik Tunggal (‘…’). Sumber materi yang dipakai adalah Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 50 Tahun 2015 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Postingan ini disajikan dalam dua model, yaitu latihan soal dan pembahasan. Andai ingin menguji kemampuan tentang materi, kita bisa berlatih dengan soal dan hasilnya bisa dibuka pada submit. Selamat memilih jawaban yang paling tepat!

Welcome to your Tanda Petik

Untuk mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan, naskah, atau bahan tertulis lain, maka dipakai ….
Pemakaian tanda petik yang sesuai dengan kaidah Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia, terdapat dalam kalimat ….
Untuk mengapit judul sajak, lagu, film, sinetron, artikel, naskah, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat, maka dipakai ….
Tanda petik dipakai untuk mengapit judul sajak, lagu, film, sinetron, artikel, naskah, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat.
Kalimat berikut ini sesuai dengan pernyaan di atas, kecuali ….
Untuk mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus, digunakan ….
Tanda petik dipakai untuk mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus. Misalnya: ….
Untuk mengapit petikan yang terdapat dalam petikan lain, digunakan ….
Tanda petik tunggal dipakai untuk mengapit petikan yang terdapat dalam petikan lain. Misalnya: ….
Untuk mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan kata atau ungkapan, digunakan ….
Tanda petik tunggal dipakai untuk mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan kata atau ungkapan. Misalnya: ….

Business

Pembahasan

Dipakai untuk mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan, naskah, atau bahan tertulis lain.
Misalnya:
“Merdeka atau mati!” seru Bung Tomo dalam pidatonya.
“Kerjakan tugas ini sekarang!” perintah atasannya. “Besok akan dibahas dalam rapat.”
Menurut Pasal 31 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, “Setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan.”

Dipakai untuk mengapit judul sajak, lagu, film, sinetron, artikel, naskah, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat.
Misalnya:
Sajak “Pahlawanku” terdapat pada halaman 125 buku itu.
Marilah kita menyanyikan lagu “Maju Tak Gentar”!
Film ―Ainun dan Habibie‖ merupakan kisah nyata yang diangkat dari sebuah novel.
Saya sedang membaca “Peningkatan Mutu Daya Ungkap Bahasa Indonesia” dalam buku Bahasa Indonesia Menuju Masyarakat Madani.
Makalah “Pembentukan Insan Cerdas Kompetitif” menarik perhatian peserta seminar.
Perhatikan “Pemakaian Tanda Baca” dalam buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan.

Dipakai untuk mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus.
Misalnya:
“Tetikus” komputer ini sudah tidak berfungsi.
Dilarang memberikan “amplop” kepada petugas!

Tanda Petik Tunggal (‘…’)

Dipakai untuk mengapit petikan yang terdapat dalam petikan lain.
Misalnya:
Tanya dia, “Kaudengar bunyi ‘kring-kring’ tadi?”
“Kudengar teriak anakku, ‘Ibu, Bapak pulang!’, dan rasa letihku lenyap seketika,” ujar Pak Hamdan.
―Kita bangga karena lagu ‗Indonesia Raya‘ berkumandang di arena olimpiade itu,‖ kata Ketua KONI.

Dipakai untuk mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan kata atau ungkapan.
Misalnya:
tergugat ‘yang digugat’
retina ‘dinding mata sebelah dalam’
noken ‘tas khas Papua’
tadulako ‘panglima’
marsiadap ari ‘saling bantu’
tuah sakato ‘sepakat demi manfaat bersama’
policy ‘kebijakan’
wisdom ‘kebijaksanaan’
money politics ‘politik uang’

Pemakaian Tanda Kurung: di sini ….

Facebook Comments

Share This Article