Bahasa adalah anugerah Tuhan yang diberikan kepada manusia. Dengan bahasa manusia bisa saling berkomunikasi. Apa yang Anda baca, adalah bahasa. Terdiri dari lambang-lambang berupa rangkaian huruf yang disusun teratur, sehingga membentuk suatu pesan yang memiliki makna. Sebenarnya saya menulis hakikat Bahasa ini adalah untuk mempelajari Modul Guru Pembelajar Bahasa Indonesia SMP Kelompok Kompetensi Profesional A. tulisan ini hanya salah satu cara saya dalam memahami modul tersebut. Di dalam modul tersebut Kridalaksana: 1983, menjelaskan tentang ciri atau sifat yang hakiki dari bahasa.

SLB KAMUDIMPUV adalah istilah saya untuk menjelaskan 12 ciri atau sifat hakiki dari bahasa seperti yang dikemukakan Kridalaksana: 1983, yaitu bahwa bahasa itu adalah sebuah: sistem, lambang, bunyi,  konvensional, arbitrer, bermakna, unik, dinais, manusiawi, produktif, universal, dan bervariasi. Mudah-mudahan dapat memudahkan dalam mengingatnya.

Tanpa kedua belas ciri tersebut bukan disebut bahasa. Misalnya saya menulis huruf-huruf “aiuek”. “Aiuek” bukan disebut bahasa, walaupun berwujud lambang dan bisa dibunyikan. Tetapi apa makna dari “aiuek?” Mungkin misalnya secara pribadi saya mengklaim “aiuek” itu untuk mengucapkan selamat datang kepada orang yang baru datang, tetapi dapatkah diterima oleh umum atau adakah dalam kamus yang membakukan kata tersebut?

Kalau huruf “aiuek” itu disusun ke dalam susunan yang teratur dan bepola, misalnya menjadi kata: aku, aki, kuku, kaki, kakek, kakak, kaku, dan lain-lain. Kelihatannya lambang-lambang tersebut memilki susunan teratur berpola yang membentuk suatu keseluruhan yang bermakna atau berfungsi dan pemakai bahasa tersebut mengerti bunyi-bunyi itu. Inilah yang disebut bahwa bahasa itu adalah sebuah sistem, bahasa itu berwujud lambang, bahasa itu berupa bunyi dan bahasa itu bermakna.

Bahasa itu bersifat arbitrer atau manasuka atau tidak memiliki hubungan wajib penyebutan kakek untuk menyebutkan seseorang yang sudah tua atau sudah memiliki cucu. Tetapi kalau penutur bahasa sudah patuh bahwa lambang kakek itu digunakan untuk menyebutkan seseorang yang sudah tua atau sudah memiliki cucu, maka kata kakek  tidak bisa digantikan dengan lambang lain karena komunikasi tidak akan jalan. Dan inilah yang disebut bahwa bahasa itu bersifat Konvensional/ ada aturan yang dipatuhi.

Bahasa itu bersifat produktif, misalnya dari hanya lima huruf “aiuek” saja, kita bisa menyusun menjadi kalimat: kuku-kuku kaki kakekku kaku-kaku. Kakak aku, dan sebagainya. Dan hanya dari 26 lambang huruf yang disusun menuju pola yang bermakna dan berfungsi bisa melahirkan ribuan bahkan ratusan ribu buku yang memenuhi perpustakaan-perpustakaan, toko-toko buku dan memadati isi jutaan komputer.

Bahasa itu merupakan alat komunikasi manusia yang dinamis mengikuti segala kegiatan dan gerak manusia. ada ciri-ciri universal yang sama yang dimiliki oleh setiap bahasa misalnya mempunyai bunyi bahasa yang terdiri dari vokal dan konsonan.

Bahasa itu unik atau memiliki ciri khas, bahkan bahasa itu bervariasi bisa bersifat perorangan; ada variasi yang digunakan oleh sekelompok masyarakat pada suatu tempat atau suatu waktu; dan bisa digunakan dalam ragam baku dan ragam tidak baku.

Demikian, salah satu kesimpulan yang saya catat dari sumber Modul Guru Pembelajar Bahasa Indonesia SMP Kelompok Kompetensi Profesional A tentang hakikat bahasa.

Semoga bermanfaat.

Pemerolehan Bahasa: di sini ….

 

Facebook Comments

Share This Article