Melontar Jamrah ialah melontar marma (tempat melontar) dengan batu kerikil pada hari Nahar dan Tasyrik. Letak Jumrah yaitu: Jumrah Ula (pertama) adalah jamrah yang terletak dekat dari arah Haratullisan. Jumrah Wusta (tengah) adalah jamrah yang kedua (yang terletak di tengah-tengah antara Jamrah Ula dan Jamrah Aqabah. Jamrah Aqabah (kubra) adalah jamrah yang terletak di perbatasan antara Mina dan Makkah.

Waktu yang diperbolehkan untuk melontar Jamrah adalah:

  1. Waktu afdhal (utama) setelah terbit matahari hari Nahr. Untuk menjaga keselamatan bagi jamaah agar menghindari waktu afdhaliyah, karena waktu tersebut sangat beresiko/ berbahaya dan usahakan melontar dengan berombongan.
  2. Waktu ikhtiar, siang hari sampai terbenam matahari (ghurub)
  3. Waktu jawaz, setelah lewat tengah malam tanggal 10 Dzulhijjah hingga terbit fajar tanggal 14 Dzulhijjah.

Melontar jumrah Aqabah tanggal 10 Dzulhijjah sebaiknya dilakukan lewat tengah malam sampai dengan pukul 05.00 pagi, atau pukul 11.00 sampai dengan pukul 18.00 atau memilih waktu malam dari pukul 18.00 sampai dengan pukul 24.00. hindari memilih waktu melontar pukul 05.00 s.d 12.00 pagi, karena sangat padat dan beresiko tinggi.

Melontar jumrah pada hari-hari tasyriq (tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah) waktunya adalah sebagai berikut:

  1. Waktu afdhol ba’da zawal.
  2. Waktu ikhtiar, sore hari sampai malam.
  3. Waktu jawaz (diperbolehkan), yaitu selain waktu afdhol dan ikhtiar dimulai terbit fajar hari bersangkutan.

Batu kerikil yang dilontarkan sebanyak 7 (tujuh) butir dan dilemparkan satu persatu. Jika melontar tujuh batu kerikil sekaligus untuk satu jamrah maka dihitung hanya satu lontaran.

Urutan melontar harus tertib dari Ula, Wusta, dan Aqabah. Apabila tidak tertib, maka harus diulang dari awal.

Melontar jamrah tidak boleh diwakilkan kepada orang lain kecuali karena uzur, baik karena sakit atau karena masyaqqah (kesulitan yang berat). Cara mewakili melontar jamrah dilakukan dengan melontar setiap jamrah untuk diri sendiri, kemudian untuk yang diwakili pada tempat yang sama. Tidak diharuskan bagi yang mewakili menyelesaikan lontaran 3 (tiga) jamrah untuk dirinya, karena tidak ada dalil yang mewajibkannya.

Apabila ada alasan-alasan darurat syar’i seperti sakit dan lain-lain melontar jamrah boleh diakhirkan (ditunda) lontarannya pada hari berikut. Caranya adalah dimulai dari jamrah Ula, Wusta, dan Aqabah secara sempurna sebagai lontaran untuk hari pertama. Kemudian mulai lagi dari jamrah Ula, Wusta dan Aqabah untuk hari kedua dan selanjutnya mulai lagi dari jamrah Ula, Wusta dan Aqabah untuk hari ketiga.

Hukumnya bagi orang yang meninggalkan lontaran Jamrah Aqabah pada tanggal 10 Dzulhijjah dan hari tasyrik adalah:

  1. Bagi yang tidak mengerjakan Jumrah Aqabah pada tanggal 10 Dzulhijjah, maka dikenakan dam seekor kambing.
  2. Bagi orang yang meninggalkan 1 (satu) kali lontaran (1 hari/1 jamrah/1 batu) dikenakan denda dengan memberikan makanan pokok sebanyak satu mud (sekitar 1 ½ kg) kepada fakir miskin.
  3. Bagi yang meninggalkan 3 (tiga) kali lontaran atau lebih, dikenakan dam seekor kambing.
  4. Bagi orang yang meninggalkan semua lontaran hari-hari tasyriq dikenakan dam seekor kambing.

Apabila terlambat tiba di Mina dari Arafah, waktu yang diperbolehkan melontar jamrah Aqabah adalah setiba di Mina langsung melontar jamrah Aqabah.

(Sumber: Do’a, Dzikir dan Tanya Jawab Manasik Haji dan Umrah, Kementeriaan Agama RI).

Berikut beberapa hadits yang dikuptif dari Bulughul Maram yang menyebutkan perihal melontar:

وَعَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ لَنَا رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( لَا تَرْمُوا اَلْجَمْرَةَ حَتَّى تَطْلُعَ اَلشَّمْسُ )  رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ إِلَّا النَّسَائِيَّ, وَفِيهِ اِنْقِطَاعٌ

Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda pada kami: “Janganlah Melontar Jumrah hingga matahari terbit.” Riwayat Imam Lima kecuali Nasa’i. Hadits Munqathi’.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( أَرْسَلَ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بِأُمِّ سَلَمَةَ لَيْلَةَ اَلنَّحْرِ, فَرَمَتِ اَلْجَمْرَةَ قَبْلَ اَلْفَجْرِ, ثُمَّ مَضَتْ فَأَفَاضَتْ )  رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ, وَإِسْنَادُهُ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ

‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mengutus Ummu Salamah pada malam hari raya Kurban, lalu ia Melontar Jumrah sebelum fajar, kemudian pergi dan turun (ke Mekkah). Riwayat Abu Dawud dan sanadnya menurut syarat Muslim.

وَعَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ وَأُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمْ قَالَا: ( لَمْ يَزَلِ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يُلَبِّي حَتَّى رَمَى جَمْرَةَ اَلْعَقَبَةِ )  رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ.

Ibnu Abbas dan Usamah Ibnu Zaid Radliyallaahu ‘anhu berkata: Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam selalu tetap membaca talbiyah hingga beliau Melontar Jumrah aqabah. Riwayat Bukhari.

وَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه ( أَنَّهُ جَعَلَ اَلْبَيْتَ عَنْ يَسَارِهِ, وَمِنًى عَنْ يَمِينِهِ, وَرَمَى اَلْجَمْرَةَ بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ وَقَالَ: هَذَا مَقَامُ اَلَّذِي أُنْزِلَتْ عَلَيْهِ سُورَةُ اَلْبَقَرَةِ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

Dari Abdullah Ibnu Mas’ud Radliyallaahu ‘anhu bahwa ia menjadikan Baitullah sebelah kirinya dan Mina sebelah kanannya dan Melontar Jumrah dengan tujuh batu. Ia berkata: Di sinilah tempat diturunkannya surat al-Baqarah kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam Muttafaq Alaihi.

وَعَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه قَالَ: ( رَمَى رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم اَلْجَمْرَةَ يَوْمَ اَلنَّحْرِ ضُحًى, وَأَمَّا بَعْدَ ذَلِكَ فَإِذَا زَادَتْ اَلشَّمْسُ )  رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Jabir Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam Melontar Jumrah pada hari Raya Kurban saat waktu dluha. Namun setelah itu (beliau melemparnya) bila matahari tergelincir. Riwayat Muslim.

وَعَنْ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا ( أَنَّهُ كَانَ يَرْمِي اَلْجَمْرَةَ اَلدُّنْيَا, بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ, يُكَبِّرُ عَلَى أَثَرِ كُلِّ حَصَاةٍ, ثُمَّ يَتَقَدَّمُ, ثُمَّ يُسْهِلُ, فَيَقُومُ فَيَسْتَقْبِلُ اَلْقِبْلَةَ, فَيَقُومُ طَوِيلاً, وَيَدْعُو وَيَرْفَعُ يَدَيْهِ, ثُمَّ يَرْمِي اَلْوُسْطَى, ثُمَّ يَأْخُذُ ذَاتَ اَلشِّمَالِ فَيُسْهِلُ, وَيَقُومُ مُسْتَقْبِلَ اَلْقِبْلَةِ, ثُمَّ يَدْعُو فَيَرْفَعُ يَدَيْهِ وَيَقُومُ طَوِيلاً, ثُمَّ يَرْمِي جَمْرَةَ ذَاتِ اَلْعَقَبَةِ مِنْ بَطْنِ اَلْوَادِي وَلَا يَقِفُ عِنْدَهَا, ثُمَّ يَنْصَرِفُ, فَيَقُولُ: هَكَذَا رَأَيْتُ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَفْعَلُهُ )  رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ

Dari Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa ia melempar Jumrah ula dengan tujuh batu kecil, ia mengiringi dengan takbir pada setiap lemparan, kemudian maju dan mencari tanah yang rata. Ia berdiri menghadap kiblat, kemudian berdoan dengan mengangkat tangannya dan berdiri lama. Lalu Melontar Jumrah wustho, kemudian mengambil arah kiri untuk mencari tempat yang rata. Ia berdiri menghadap kiblat, kemudian berdoa dengan mengangkat kedua tangannya dan berdiri lama. Kemudian melempar Jumrah aqabah dari tengah lembah. Ia tidak berdiri di situ dang langsung kembali. Ia mengatakan: Beginilah aku melihat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam melakukannya. Riwayat Bukhari.

Demikian, semoga bermanfaat.

Menghindari Larangan-larangan Ihram di sini ….

Facebook Comments

Share This Article