Mabit di Mina ialah bermalam di Mina pada hari-hari tasyriq (malam tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah). Menurut Jumhur ulama mabit di Mina hukumnya wajib, sebagian yang lain mengatakan sunat. Bagi yang mengambil Nafar Awal mabit di Mina pada malam tanggal 11 dan 12 Dzulhijjah dan yang mengambil Nafar Tsani mabit di Mina malam tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.

Mabit di Mina tidak harus dimulai dari waktu magrib (matahari terbenam) asal bisa berada di Mina melebihi separuh malam (Ma’dzumullail). Contoh mulai pukul 20.00 s.d 03.00 atau pukul 21.00 s.d 04.00.

Apabila tidak mabit di Mina pada seluruh hari tasyriq, maka wajib membayar dam (satu ekor kambing). Tetapi apabila tidak mabit di Mina hanya satu malam atau dua malam, maka harus diganti dengan denda. Yaitu satu malam satu mud (3/4 kg beras/ makanan pokok), dua malam dua mud (1 ½ kg beras makanan pokok), tiga malam, membayar dam seekor kambing.

Haratullisan termasuk daerah hukum Mina untuk mabit bagi jamaah haji.

Apabila yang membawa jamaah haji dari Arafah yang seharusnya ke Mina tersesat langsung ke Makkah, hendaknya melakukan thawaf ifadah, sa’i dan bercukur jika sudah lewat tengah malam yang berarti sudah Tahallul Awal. Kemudian menuju ke Mina untuk melontar Jamrah Aqabah yang berarti sudah Tahallul Tsani dan seterusnya Mabit.

Hukum Mabit di Mina pada malam hari Tasyriq menurut sebagian besar mazhab Syafi’i, mazhab Maliki dan sebagian ulama Mazhab Hambali dan juga fatwa MUI tahun 1981 adalah wajib dan bagi yang tidak mabit dikenakan dam. Namun ada sebagian dari mazhab Hanafi, sebagian Hambali, sebagian mazhab Syafi’i dan sebagian mazhab Dhahiri berpendapat bahwa mabit di Mina pada malam hari tasyriq hukumnya sunat.

Mabit di perluasan kemah di kawasan perluasan Mina hukumnya sah seperti di Mina, sebagaimana pendapat para ulama Makkah saat ini dan para ulama lain dan juga menurut ijtihad yang didasarkan pada keadaan darurat karena kondisi di Mina saat ini sudah penuh sesak dan kemah di perluasan Mina masih bersambung dengan perkemahan di Mina, sesuai dengan Keputusan Hasil Mudzakarah Ulama Tentang Mabit di Luar Kawasan Mina, tanggal 10 Januari 2001.

Bagi yang berpendapat mabit di Mina itu wajib dan perluasan kemah di Mina pelaksanaan mabitnya masuk ke wilayah Mina kemudian setelah mabit kembli ke kemahnya di perluasan Mina.

Nafar Awal ialah keberangkatan jamaah haji meninggalkan Mina pada tanggal 12 Dzulhijjah, setelah melontar 3 jamarat (bermalam di Mina 2 malam) paling cepat ba’da zawal dibolehkan meninggalkan Mina.

Nafar Tsani ialah keberangkatan jamaah haji meninggalkan Mina pada tanggal 13 Dzulhijjah, setelah melontar 3 jamarat (bermalam di Mina 3 malam).

Nafar Awal atau nafar Tsani sama nilainya, namun Rasulullah SAW melaksanakan Nafar Tsani. Mengingat Nafar Awal kondisi tempat padat dan perjalanaan ke Makkah macet total, maka memilih Nafar tsani merupakan pilihan yang tepat.

(Sumber: Do’a dan Dzikir Tanya Jawab Manasik Haji dan Umrah, Kementerian Agama RI).

عَنِ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا: ( أَنَّ اَلْعَبَّاسَ بْنَ عَبْدِ اَلْمُطَّلِبِ رضي الله عنه اِسْتَأْذَنَ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَنْ يَبِيتَ بِمَكَّةَ لَيَالِيَ مِنًى, مِنْ أَجْلِ سِقَايَتِهِ, فَأَذِنَ لَهُ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa Abbas Ibnu Abdul Mutthalib memohon izin kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam untuk menginap di Mekkah pada malam-malam yang seharusnya berada di Mina karena tugasnya memberi air minum kepada Jemaah Haji, lalu beliau mengizinkannya. Muttafaq Alaihi.

وَعَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( نَحَرْتُ هَاهُنَا, وَمِنًى كُلُّهَا مَنْحَرٌ, فَانْحَرُوا فِي رِحَالِكُمْ, وَوَقَفْتُ هَاهُنَا وَعَرَفَةُ كُلُّهَا مَوْقِفٌ, وَوَقَفْتُ هَاهُنَا وَجَمْعٌ كُلُّهَا مَوْقِفٌ )  رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Jabir Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Aku berkurban di sini dan Mina seluruhnya tampat penyembelihan kurban, maka berkurbanlah di tempat kemah-kemahmu. Aku wukuf di sini dan Arafah seluruhnya tempat wukuf. Aku menginap di sini dan Mudzalifah seluruhnya tempat menginap.” Riwayat Muslim.

وَعَنْ عَاصِمِ بْنِ عَدِيٍّ رضي الله عنه ( أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَرْخَصَ لِرُعَاة اَلْإِبِلِ فِي اَلْبَيْتُوتَةِ عَنْ مِنًى, يَرْمُونَ يَوْمَ اَلنَّحْرِ, ثُمَّ يَرْمُونَ اَلْغَدِ لِيَوْمَيْنِ, ثُمَّ يَرْمُونَ يَوْمَ اَلنَّفْرِ )  رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ, وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَابْنُ حِبَّانَ

Dari Ashim Ibnu Adiy bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam memberikan keringanan pada para pengembala unta untuk bermalam di luar kota Mina, mereka melempar pada hari raya Kurban, mereka melempar besok dan besok lusa untuk dua hari, kemudian mereka melempar pada hari nafar (tanggal 14). Riwayat Imam Lima. Hadits shahih menurut Tirmidzi dan Ibnu Hibban.

Demikian. Semoga bermanfaat.

Sebagian hadits: di sini ….

Facebook Comments

Share This Article