Segala puji bagi Allah. Semoga Allah SWT. memberikan pemahaman kepada kepada kita dalm hal agama. Wahyu menurut etimologi (bahasa) adalah memberitahukan secara samar, atau dapat diartikan juga dengan tulisan, tertulis, utusan, ilham, perintah dan isyarat. Sedangkan menurut terminologi (syariat) adalah memberitahukan hukum-hukum syariat, namun terkadang yang dimaksud dengan wahyu adalah sesuatu yang diwahyukan, yaitu kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Adapun pengertian “permulaan turunnya wahyu” adalah segala sesuatu yang berkenaan dengan permulaan turunnya wahyu.

Allah berfirman:

إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَى نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِن بَعْدِهِ وَأَوْحَيْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأَسْبَاطِ وَعِيسَى وَأَيُّوبَ وَيُونُسَ وَهَارُونَ وَسُلَيْمَانَ وَآتَيْنَا دَاوُودَ زَبُوراً

Sesungguhnya Kami Mewahyukan kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah Mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya, dan Kami telah Mewahyukan (pula) kepada Ibrahim, Isma‘il, Ishaq, Ya‘qub dan anak cucunya; ‘Isa, Ayyub, Yunus, Harun, dan Sulaiman. Dan Kami telah Memberikan Kitab Zabur kepada Daud. (Qs. An-Nisaa’ (4): 163)

عَنْ عَائِشَةَ اُم المؤمنين رضي الله عنها ان الحرث بن هشام رضي الله عنه سال رسول الله صلي الله عليه وسلم فقال يارسول الله كيف ياتيك الوهي فقال رسول الله صلي الله عليه وسلم احيانا ياتيني مثل صلصلة الجرس وهو اشده علي فيفصم عني وقد وعيت عنه ما قال واحيانا يتمثل لي الملك رجلا فيكلمني فاعي ما يقول قالت عائشة رضي الله عنها ولقد رايته ينزل عليه الوهي في اليوم الشديد البرد فيفصم عنه وان حبينء ليتفصد عرقا

Dari ‘Aisyah Ummul Mukminin RA, bahwa Harits bin Hisyam RA bertanya kepada Nabi Muhammad SAW, “Ya Rasulullah bagaimana caranya wahyu turun kepada anda? Rasulullah menjawab, “Kadang-kadang wahyu itu datang kepadaku seperti bunyi lonceng. Itulah yang sangat berat bagiku. Setelah bunyi itu berhenti, aku baru mengerti apa yang disampaikannya. Kadang-kadang malaikat menjelma seperti seorang laki-laki menyampaikan kepadaku dan aku mengerti apa yang disampaikannya,” Aisyah berkata, “Aku pernah melihat Nabi ketika turunnya wahyu kepadanya pada suatu hari yang amat dingin. Setelah wahyu itu berhenti turun, kelihatan dahi Nabi bersimpah peluh.'”

Dari Aisyah Umul Mukminiin bahwa ia berkata, “Pertama turunnya wahyu kepada Rasulullah SAW secara mimpi yang benar waktu beliau tidur. Biasanya mimpi itu terlihat jelas oleh beliau, seperti jelasnya cuaca pagi. Semenjak itu hati beliau tertarik hendak mengasingkan diri ke Gua Hira’. Di situ beliau beribadat beberapa malam, tidak pulang ke rumah isterinya. Untuk itu beliau membawa perbekalan secukupnya. Setelah perbekalan habis, beliau kembali kepada Khadijah, untuk mengambil lagi perbekalan secukupnya. Kemudian beliau kembali ke Gua Hira, hingga suatu ketika datang kepadanya kebenaran atau wahyu, yaitu sewaktu beliau masih berada di Gua Hira. Malaikat datang kepadanya, lalu katanya, “Bacalah,”jawab Nabi, “Aku tidak bisa membaca. ” Kata Nabi selanjutnya menceritakan, “Aku ditarik dan dipeluknya sehingga aku kepayahan. Kemudian aku dilepaskannya dan disuruhnya pula membaca. “Bacalah,” Jawabku, “Aku tidak bisa membaca. ”

Aku ditarik dan dipeluknya sampai aku kepayahan. Kemudian aku dilepaskan dan disuruh membaca, “Bacalah, ” katanya. Kujawab, “Aku tidak bisa membaca, ” Aku ditarik dan dipeluk untuk ketiga kalinya, kemudian dilepaskan seraya berkata; “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menjadikan. Yang menjadikan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Demi Tuhanmu Yang Maha Mulia. “Setelah itu Nabi pulang ke rumah Khadijah binti Khuwailid, lalu berkata, “Selimuti aku, selimuti aku!” Siti Khadijah menyelimutinya hingga hilang rasa takutnya. Kata

Nabi kepada khadijah (setelah dikabarkan semua kejadian yang dialaminya itu), “Sesungguhnya aku cemas atas diriku (akan binasa). “Khadijah menjawab, “Jangan takut, demi Allah, Tuhan tidak akan membinasakan kamu. Kamu selalu menyambung tali persaudaraan, membantu orang yang sengsara, mengusahakan barang keperluan yang belum ada, memuliakan tamu, menolong orang yang kesusahan karena menegakkan kebenaran. “Setelah itu Khadijah pergi bersama Nabi menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza, yaitu anak paman Khadijah, yang telan memeluk agama Nasrani pada masa Jahiliah itu. la pandai menulis buku dalam bahasa Ibrani. Maka disalinnya Kitab Injil dari bahasa Ibrani seberapa dikehendaki Allah dapat disalin. Usianya telah lanjut dan matanya telah buta. Khadijah berkata kepada Waraqah, “Wahai Anak pamanku!

Dengarkan kabar dari anak saudarmu (Muhammad) ini. ” Kata Waraqah kepada Nabi, “Wahai Anak Saudaraku! Apa yang telah terjadi atas dirimu?” Nabi menceritakan kepadanya semua peristiwa yang telah dialaminya. Berkata Waraqah, “Inilah Namus (malaikat) yang pernah diutus Allah kepada Nabi Musa. Duhai, semoga saya masih diberi kehidupan ketika kamu diusir kaummu, “Nabi bertanya, “Apakah mereka akan mengusirku,” Jawab Waraqah, “Ya betul, Belum ada seorang pun yang diberi wahyu sepertimu tidak dimusuhi orang. Apabila saya masih mendapati hari ini niscaya saya akan menolong anda sekuat-kuatnya.” Tidak berapa lama kemudian Waraqah meninggal dunia dan wahyu pun terputus untuk sementara.

Jabir bin Abdullah Al Anshari berkata, beliau bercerita tentang terputus-nya wahyu, Rasulullah bercerita, “Pada suatu hari ketika aku sedang berjalan-jalan, tiba-tiba kedengaran olehku suatu suara dari langit, maka kuangkat pandanganku ke arah datangnya suara itu. Kelihatan olehku malalikat yang pernah datang kepadaku di Gua Hira dahulu. Dia duduk di kursi antara langit dan bumi. Aku terperanjat karenanya dan terus pulang. Aku berkata kepada Khadijah, “Selimuti aku!. “ Lalu Allah menurunkan ayat, “Hai orang-orang yang berselimut! Bangunlah! Maka berilah peringatan dan besarkanlah Tuhanmu! Bersihkanlah pakaianmu dan jauhilah berhala. ” Maka semenjak itit wahyu turun berturut-turut.

“Dari Ibnu Abbas tentang firman Allah, “Jangan kamu gerakkan lidahmu dalam membaca Al Qar’an dengan terburu-buru. “Berkata Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah SAW berusaha mengatasi kesulitan ketika menerima wahyu, dengan menggerakkan kedua bibirnya. Ibnu Abbas berkata, “Aku menggerakkan kedua bibirku ini di hadapan kalian sebagaimana Nabi menggerakkan bibirnya. ” Sa ‘id berkata, “Saya menggerakkannya seperti Ibnu Abbas menggerakkan, ” maka turunlah ayat Al-Qur’an, “Jangan kamu gerakkan lidahmu dalam membaca Al Qur’an dengan terburu-buru. sesungguhnya Kami telah mengumpulkannya (Al Qur’an)”

Dia berkata, “Allah Telah mengumpulkan A! Qur’an di dalam hatimu dan membacakannya.” Allah berfirman, “Apabila Kami membacakan Al Qur’an ikutilah bacaannya.” Atau “dengarkanlah dan diam, “Allah berfirman, “Kemudian Kami yang memberi penjelasan,” kemudian kepada kami kamu membacanya (Al Qur’an). Bahwasanya Rasulullah SA W apabila setelah didatangi oleh Jibril, beliau mendengarkannya secara seksama, apabila Jibril pergi barulah ia membacanya sebagaimana Jibril membaca. “

Telah mengabarkan kepada aku Ubaidullah bin Abdullah dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Bahwa Rasulullah SAW orang yang paling murah hati, lebih-lebih ketika beliau bertemu Jibril pada bulan Ramadhan, beliau bertemu dengan Jibril pada setiap malam bulan Ramadhan untuk mempelajari (membaca) Al Qur’an, dan sifat murah hati Rasulullah melebihi hembusan angin.”

 

Mengimani Allah : di sini ….

(Sumber: Fathul Baari, Kitaabu Bad’il Wahyi)

Facebook Comments