Siapa yang tidak mengenal WS Rendra dengan julukannya Si Burung Merak. Dia adalah sastrawan, budayawan, juga dramawan yang piawai di atas panggung. Namanya dan karyanya menjadi bahan pembelajaran di sekolah-sekolah. Kalau kita mempelajari pembabakan sastra Indonesia, maka beliau digolongkan ke dalam angkatan 66. Karya-karyanya yang terkenal antara lain “Blus untuk Bonnie” (1971), Sajak-sajak Sepatu Tua” (1972) dan masih banyak lagi. Pria kelahiran 7 Nopember 1935 itu, kini sudah tiada. Beliau meninggal dunia pada hari Kamis, 6 Agustus 2009, pukul 20.00 WIB.
Semoga beliau ditempatkan di tempat yang paling mulia. Memang beliau sudah tiada, namun karya-karyanya tetap hidup dan akan terus hidup. Kecuali perputaran waktu sudah berhenti. Berikut ini adalah karya terakhir beliau. Dibuat ketika sedang perawatan, sebelum wafat. Sebuah puisi tanpa judul, sangat regius, menyentuh hati, dan ini merupakan warisan terakhirnya.

Hidup itu seperti UAP,
yang sebentar saja kelihatan, lalu lenyap !!
Ketika Orang memuji MILIKKU,
aku berkata bahwa ini HANYA TITIPAN saja.

Bahwa mobilku adalah titipan-NYA,
Bahwa rumahku adalah titipan-NYA,
Bahwa hartaku adalah titipan-NYA,
Bahwa putra-putriku hanyalah titipan-NYA …

Tapi mengapa aku tidak pernah bertanya,
“MENGAPA DIA menitipkannya kepadaku?”
“UNTUK APA DIA menitipkan semuanya kepadaku?”
Dan kalau bukan milikku, apa yang seharusnya aku lakukan untuk milik-NYA ini?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-NYA?

Malahan ketika diminta kembali,
kusebut itu MUSIBAH,
kusebut itu UJIAN,
kusebut itu PETAKA,
kusebut itu apa saja …
Untuk melukiskan, bahwa semua itu adalah DERITA …

Ketika aku berdo’a, kuminta titipan yang cocok dengan KEBUTUHAN DUNIAWI,
Aku ingin lebih banyak HARTA,
Aku ingin lebih banyak MOBIL,
Aku ingin lebih banyak RUMAH,
Aku ingin lebih banyak POPULARITAS,
Dan kutolak SAKIT,
Kutolak KEMISKINAN,
Seolah semua DERITA adalah hukuman bagiku.

Seolah KEADILAN dan KASIH-NYA, harus berjalan seperti penyelesaian matematika dan sesuai dengan kehendakku.
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita itu menjauh dariku,
Dan nikmat dunia seharusnya kerap menghampiriku …

Betapa curangnya aku,
Kuperlakukan DIA seolah “Mitra Dagang” ku dan bukan sebagai “Kekasih”!
Kuminta DIA membalas “perlakuan baikku” dan menolak keputusan-NYA yang tidak sesuai dengan keinginanku …

Duh ALLAH …

Padahal setiap hari kuucapkan,
“Hidup dan Matiku, Hanyalah untuk-MU ya ALLAH, AMPUNI AKU, YA ALLAH …

Mulai hari ini, ajari aku agar menjadi pribadi yang selalu bersyukur dalam setiap keadaan dan menjadi bijaksana, mau menuruti kehendakMU saja ya ALLAH …
Sebab aku yakin ENGKAU akan memberikan anugerah dalam hidupku …
KEHENDAKMU adalah yang ter BAIK bagiku …
Semoga manfaat
Sahabatmu…

Facebook Comments