Cerita ringan ini boleh dicoba diceritakan kembali di saat-saat sedang ngobrol (bercakap-cakap) kesana-kemari. Biasanya di saat-saat seperti itu, tema yang diceritakan sangat ngawur, termasuk bercerita hal-hal mistik berbau cerita hantu. Anda bisa memulai cerita dengan bertanya seolah-olah ada suatu kejadian di kampung terdekat. Yakinkan ini seolah-olah bukan dongeng, tetapi kejadian nyata, supaya endingnya mereka memarahi anda. Selamat mencoba menceritakan kisah berikut:

Hai… tahukah kamu kejadian sebenarnya yang menggemparkan daerah kita? … Masa tidak tahu? …  Ih kamu itu ketinggalan informasi. kan si nenek yang kaya raya yang suka memamerkan semua perhiasan emasnya kemanapun ia pergi. Sebulan yang lalu dia itu telah meninggal dunia.

Konon katanya, dia terbunuh dalam insiden perampokan di rumahnya. Dia ditemukan dalam keadaan penuh luka. Jari jemari yang penuh dengan hiasan cincin, semuanya terluka penuh dengan darah, lehernya agak sobek, dan kaki yang selalu dililti perhiasan emas pun terluka. Mungkin luka-luka tersebut diakibatkan oleh pengambilan perhiasan secara paksa oleh perampok.

Ih, waktu malam Jumat kemarin ada kabar lagi dari kampung apa itu, lupa lagi. Kebetulan kemarin itu dari sore sampai tengah malam hujan tak mau berhenti. Menurut cerita ketika itu ada seorang wanita cantik melewati kampung. Karena hujan, wanita itu berhenti numpang berteduh di teras suatu rumah. Terlihat badannya gemetar menggigil. Kakinya basah kena cipratan air hujan. Dia diam saja di teras tanpa permisi kepada yang punya rumah.

Sementara waktu maghrib semakin dekat, hujan pun semakin besar. Wanita itu masih terdiam di teras. Tak lama kemudian yang mempunyai rumah muncul mendekati sang wanita. Dia mempersilahkan wanita itu untuk berteduh di dalam rumah. Dan wanita itu langsung masuk.

Di dalam rumah sang pemilik rumah bertanya tentang asal muasal wanita itu dan tujuan ia hendak ke mana? Wanita itu pun menjawab sebagaimana layaknya orang sedang ngobrol (bercakap-cakap). Awalnya sang pemilik rumah biasa saja mengobrol tanpa merasa curiga ada sesuatu yang aneh pada wanita itu. Tetapi semakin lama diajak ngobrol, semakin ada sesuatu yang terasa. Bulu kuduknya terasa merinding, hatinya merasa takut yang luar biasa. Tetapi yang punya rumah masih bisa menyembunyikan rasa takutnya.

Sambil mengobrol si pemilik rumah terus memperhatikan wajah wanita itu. Dalam hatinya, dia mengakui bahwa wanita itu terlihat sangat cantik, tetapi bila bertatapan dengan matanya, si pemilik rumah merasa merinding. Ia tak biasa mengalami hal seperti itu.

Sementara sore akan berganti malam. Lampu-lampu pun mulai dinyalakan. Hujan dengan kilatan petir semakin menambah rasa takut. Obrolan terus terjadi. Yang punya rumah, semakin berani mengintip-intip wajah wanita itu. Semakin ditatapnya, semakin jelas bahwa ia pernah melihat wanita tersebut. Tetapi belum terbayang di mana ia pernah melihatnya?

Sampai suatu ketika, tak sadar ia melihat jari-jemari wanita itu penuh dengan luka dan mengeluarkan darah, lehernya agak sobek, dan kakinya memar sekali. Ia teringat kepada sang nenek yang telah terbunuh karena ia mengambil paksa semua perhiasan emasnya. Di sekujur tubuhnya mulai terasa keringat dingin mulai bercucuran. Ia masih penasaran, dan sempat bertanya, “kenapa jari-jari dinda berdarah? Wanita itu menunduk malu untuk menjawab. Ia ajukan lagi pertanyaan, “Kenapa leher dinda sobek? Wanita itu berdiri dan menjawab, “Kan ku sia” (sambil memukul kursi dan suara membentak, maksudnya, kan oleh kamu).

Facebook Comments
style type="text/css"> #main-header .et_mobile_menu .menu-item-has-children > a { background-color: transparent; position: relative; } #main-header .et_mobile_menu .menu-item-has-children > a:after { font-family: 'ETmodules'; text-align: center; speak: none; font-weight: normal; font-variant: normal; text-transform: none; -webkit-font-smoothing: antialiased; position: absolute; } #main-header .et_mobile_menu .menu-item-has-children > a:after { font-size: 16px; content: '\4c'; top: 13px; right: 10px; } #main-header .et_mobile_menu .menu-item-has-children.visible > a:after { content: '\4d'; } #main-header .et_mobile_menu ul.sub-menu { display: none !important; visibility: hidden !important; transition: all 1.5s ease-in-out;} #main-header .et_mobile_menu .visible > ul.sub-menu { display: block !important; visibility: visible !important; }