Tanpa Buku Tuhan Diam, Keadilan Terbenam

1
224

Berikut ini merupakan contoh Amanat Pembina Upacara Pengibaran Bendera hari senin yang membahas tanpa buku Tuhan diam, keadilan terbenam

Assalaamu ‘alaikum wr. wbr.

Anak-anakku yang Bapak banggakan.

Baru saja kita telah memperingati Hari Ulang Tahun ke-71 Kemerdekaan Republik Indonesia. Alhamdulillah kita telah memperingatinya dengan mengikuti Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih pada tanggal 17 Agustus kemarin. Dan kalian telah merayakannya dengan mengikuti berbagai lomba khas seperti balap karung, mengambil koin yang  tertanam pada buah jeruk, lomba makan kerupuk, main rebutan dan berbagai atraksi menarik lainnya. Sebagai ungkapan rasa syukur atas kemerdekaan itu tentu bukan sebatas mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut. Ada hal yang lebih penting, untuk mengisi kemerdekaan sesuai dengan posisi kalian yaitu belajar.

Dalam mengisi kemerdekaan, kalian belum dituntut untuk bisa membangun jembatan, membangun gedung sekolah, membangun jalan tol dan sebagainya. Sementara waktu fokuskan dulu untuk belajar. bacalah buku sebanyak-banyaknya karena dengan banyak membaca buku akan meningkatkan kwalitas hidup kalian di masa yang akan datang dan akan menjadi pondasi yang kuat dalam mempersiapkan diri sehingga menjadi manusia yang unggul.

Ingat bahwa buku mempunyai peranan yang dahsyat dalam membangun  peradaban suatu bangsa, maka tidak heran bila hampir seluruh mantan presiden Amerika Serikat selalu membuat otobiografi sebagai bukti kecintaan mereka pada budaya membaca buku. “Reading is my hobby” demikianlah sejarah mencatat sehingga AS memiliki pemimpin-pemimpin besar yang gila buku.

Belajar dari sejarah Negara-negara maju, maka yang menjadi fondasi pembangunan itu ialah budaya membaca. Dari sejarah juga kita bisa mengetahui bahwa sebenarnya budaya baca, bukan hanya menjadi fondasi pembangunan Negara akan tetapi juga menjadi fondasi peradaban dan dalam skala personal menjadi fondasi peningkatan kwalitas hidup seseorang.

Kebangkitan Jepang, Cina juga sebagian India diawali dari kegiatan membaca. Pada pertengahan abad Sembilan belas dengan resotasi Meiji-nya Jepang memulai kebangkitannya dengan membangun sumber daya manusia terlebih dahulu, dengan mengutamakan pemberantasan buta huruf dan membudayakan membaca.

Memang, sebuah buku adalah dunia ajaib penuh simbol yang menghidupkan kembali si mati dan memberikan hadiah kehidupan yang kekal kepada yang hidup. Hanya dengan dua puluh enam huruf yang dirangkai dengan berbagai cara, buku dapat membawa dampak yang luar biasa hebat bagi pembacanya. Hingga pantaslah Thomas Jafferson presiden ketiga Amerika Serikat sampai mengatakan. “Saya tak bisa hidup tanpa buku.” Thomas Bartholin seorang cendikia Denmark berujar bahwa tanpa buku Tuhan diam, keadilan terbenam, ilmu pengetahuan alam macet, sastra bisu, dan segala hal dirundung kegelapan.

Maka, mulailah kembali iqra (Bacalah!).  Dari diri kalian, Bapak bisa melihat Indonesia 10 tahun 20 tahun yang akan datang akan menjadi Negara yang paling maju. Karena 10 tahun 20 tahun ke depan, usia produktif penduduk Indonesia begitu tinggi. Persiapkan diri dengan banyak membaca. Kalau tidak, Bapak tidak tahu apa yang akan terjadi dengan pondasi yang rapuh.

Akhir kata, semoga Allah merahmati kita semua. Amiin.

Wassalamu ‘alaikum wr. wbr.

Gerakan Literasi Sekolah: Di sini ….

1 KOMENTAR

  1. Tulisan ini mengarah pada domain membaca, lanjut pak dengan domain menulis, dan sedikit munculkan fantasi biar lebih menarik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here