Setelah memperingati hari ulang tahun ke-71 kemerdekaan Republik Indonesia, sejenak saya merenungkan bahwa dulu para pejuang mempertaruhkan nyawa untuk merdeka. Sekarang sudah merdeka saya mempertaruhkan apa? Dulu ada dua pilihan kata, yaitu Merdeka atau Mati. Sampai sekarang saya berpikir merdeka adalah harga mati bukan untuk mati harga yang hanya dihidupkan dalam peringatan seremonial. Pastinya banyak hal yang mesti dilakukan setelah merdeka. Saya apresiasi kemerdekaan ini pada tingkat individu karena Bagaimana saya dapat merasakan kemerdekaan? Kalau Arti Merdeka pada Tingkat Individu saya saja tidak tahu.

Saya artikan saja merdeka adalah bebas. Enak mendengarnya. Iya …bebas. Tetapi Kapan berjuangnya? ujug-ujug bebas. Padahal ada dikata. “Sebuah kemerdekaan tidak mungkin diraih tanpa adanya kemenangan, kemenangan mustahil didapat tanpa adanya perjuangan, perjuangan tidak akan berarti tanpa adanya kebersamaan dan persaudaraan, persaudaraan tidak mungkin tercapai tanpa ketulusan, dan ketulusan tidak berfaedah tanpa didasari ilmu.”

Saya ingin mengetahui apakah pribadi saya sudah merdeka atau belum? Saya ajukan pertanyaan, “Apakah setiap hari sudah mampu bangun pagi untuk melaksanakan shalat Subuh? Saya bertanya demikian karena berberpikir, bagaimana bisa membangun hal yang lainnya? Kalau bangun pagi saja tidak bisa. Padahal di waktu pagi,  Allah senantiasa menurunkan rahmat yang luar biasa besar untuk hamba-Nya: “Shalat sunnah fajar 2 rakaat sebelum Subuh lebih utama dari dunia dan segala isinya” (HR Muslim). Kemudian, dengan shalat Subuh berjamaah di masjid, maka kita mendapat anugerah istimewa karena dianggap telah melakukan shalat semalam suntuk. Sebagaimana sabda nabi“dan barang siapa yang melaksanakan shalat Subuh berjamaah, maka ia bagaikan telah melaksanakan shalat semalam suntuk” (HR Muslim).

Maka pantaslah, Nabi mengatakan “Jika engkau tahu akan keagungan pahalanya niscaya engkau akan mendatanginya (yaitu bangun pagi dan shalat Subuh berjamaah), walaupun dengan berjalan merangkak-rangkak” (HR Bukhari Muslim). Setiap satu langkah kita berangkat ke mesjid, maka akan tambah satu kebaikan dan menghapus satu kesalahan. (Al-hadits). Belum lagi rezeki yang dijanjikan bagi orang yang mencarinya sejak pagi.

Subhanallah, begitu luar biasanya bangun pagi. Semoga saja saya bisa berjuang mengalahkan musuh-musuh, yaitu setan dan hawa nafsu yang senantiasa menjajah hingga  tidak lagi merasa terjajah oleh nafsu tidur.

Lebih jauh lagi, kalau memaknai kemerdekaan diposisikan sebagai hamba Allah. maka Kemerdekaan pertama yang harus dimiliki adalah kemerdekaan dari segala bentuk peribadatan kepada selain Allah. Laatasjudu lissyamsi walaa lilqomar wasjuduu lillahilladzi kholaqohunna (Janganlah kamu sujud kepada matahari dan bulan dan sujudlah kepada yang menciptakan keduanya Inkuntum iyyahu ta’buduun: andai nyata kepada-Nya beribadah.

Alhamdulillah dari penjajahan kolonial sudah terbebas. Semoga Allah menunjukkan jalan dan memberi kemampuan untuk membebaskan penghambaan selain kepada-Nya. Dan berhasil berjuang melawan keangkuhan dan pengaruh nafsu lawwamah serta nafsu ammarah yang pada akhirnya bisa terbebas dari api neraka. Amiin.

Facebook Comments