Sebelumnya, saya yang ingin belajar agama (islam), yang ingin memperdalam ilmu-ilmu agama mengucapkan terima kasih kepada Keluarga Besar Majelis Ta’lim Rohmatul Ummah. Dengan ilmu dari mereka, semoga membawa kami kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Dan semoga seluruh Keluarga Besar Majelis Ta’lim Rohmatul Ummah ilmunya semakin bertambah, semakin berkah dan senantiasa mendapat Ridha Allah Swt. Berikut adalah sebagian terjemahan kitab Sullamut Taufiq yang menjelaskan tentang kewajiban menjaga agama.

Setiap orang wajib memelihara dan menjaga keislamannya agar jangan sampai ada sesuatu yang merusak, membatalkan, atau memutus islamnya, sebab semua itu adalah murtad. Semoga kita dilindungi oleh Allah dari perbuatan murtad.

Pada zaman ini banyak orang yang sembrono dalam berkata-kata, sehingga yang diucapkan sungguh-sungguh mengeluarkan dirinya dari islam, sementara dia tidak sama sekali tidak menganggap bahwa yang diucapkan itu adalah dosa, apalagi dianggap kufur malah tak mungkin.

Perbuatan murtad terbagi dalam tiga hal :

  1. Berupa keyakinan-keyakinan dalam hati
  2. Perbuatan anggota dohir dan
  3. Ucapan-ucapan

Masing-masing bagian bercabang amat banyak.

Pertama, bimbang kepada Allah, rasul Allah, hari kiamat, masalah surga, Al-Quran, adanya neraka, bimbang adanya pahala, siksa dan sebagainya dari semua yang telah disepakati ulama akan terjadinya.

Mempunyai I’tikad (anggapan), bahwa sifat-sifat wajib bagi Allah yang telah di sepakati ulama, ada salah satu yang tidak dimiliki Allah, Misalnya beranggapan bahwa Allah itu tidak bersifat ilmu.

Menyandarkan satu sifat kepada Allah, yang sifat itu mustahil dimiliki Allah dengan ijmak, misalnya mengatakan bahwa Allah itu jisim (bertubuh).

Mengharamkan yang haram (dengan kesepakatan ulama) dan yang dihalalkan merupakan yang sudah diketahui dari agama dengan pasti (tanpa di cari dalilnya), seperti zina, homo seks, membunuh orang, mencuri, dan ghasab.

Mengharamkan yang halal (dan hal yang diharamkan itu sudah jelas dalam agama tanpa perlu ada dalil), seperti hukum jual beli dan nikah. Meniadakan kewajiban yang disepakati ulama, seperti shalat lima waktu, satu sujud dari shalat, zakat, puasa, ibadah haji, dan wudhu.

Mewajibkan yang tidak wajib padahal sudah disepakati para ulama, hal itu sudah secara pasti dari agama.

Meniadakan ibadah yang disarankan syara dan telah disepakati para ulama seperti, shalat rawatib (qabliah/ba’diyah).

Mempunyai rencana hendak kufur pada hari-hari yang akan datang atau mempunyai rencana akan melakukan hal tersebut (hal-hal yang membuat murtad).

Ragu-ragu dalam kekufuran, umpamanya seseorang ragu apakah dia dalam keadaan kufur atau bukan. Tapi kalau was-was dalam kekufuran atau ingkar kalau Abu Bakar itu sebagai sahabat Nabi Saw.

Atau mengingkari kerasulan salah seorang dari rasul yang disepakati kerasulannya, seperti mengatakan bahwa Nabi Yahya itu bukan Rasul.

Atau mengingkari satu huruf dari Al-Quran yang telah disepakati bahwa huruf itu adalah huruf Al-Quran.

Atau menambah satu huruf dalam Al-Quran yang telah disepakati bahwa huruf itu bukan termasuk huruf  Al-Quran, sedangkan dia menyakinkan bahwa huruf yang dia tambahkan itu termasuk Al-Quran.

Atau mendustakan dan meremehkan rasul, serta mengecilkan namanya dengan tujuan menghina. Dan menganggap, bahwa setelah Nabi Muhammad boleh jadi ada Nabi lagi.

Kedua, berupa perbuatan-perbuatan, seperti sujud kepada berhala, kepada mata hari, dan kepada makhluk lain.

Ketiga, berupa ucapan-ucapan. Hal ini sangat banyak, hingga tak terhitung jumlahnya, antara lain:

  • Berkata kepada orang islam “Hai orang kafir, hai orang yahudi, hai orang nasrani, atau hai orang tak beragama. Orang yang berkata tersebut bermaksud bahwa yang dipanggil itu kafir, atau ketika berkata, Hai orang Nasrani, dia bermaksud orang yang di panggil itu orang nasrani. Begitu pula dengan kata, hai orang yahudi,d ia bermaksud yang dipanggil itu orang yahudi.
  • Menghina salah satu nama dari nama-nama Allah
  • Menghina janji dan ancaman Allah, atau apa saja yang tak layak disandarkan kepada-Nya
  • Berkata, andaikan Allah merintah kepadaku, maka saya tak mau.
  • Berkata, jika arah kiblat dipindahkan kearah yang lain, saya tak sudi shalat menghadap kearah-Nya
  • Berkata, seandainya aku diberi surga oleh Allah, maka saya tak mau memasukinya. Kata-kata karena menghina atau tampak menentang.
  • Berkata, jika Allah menyiksa karena tidak shalat, padahal saya sedang sakit, maka berarti Allah menganiaya saya.
  • Ketika ada suatu kejadian/perbuatan, dia berkata, ini bukan taqdir dari Allah
  • Berkata, andaikata yang menjadi saksi di sisiku itu para Nabi, dan para malaikat, atau seluruh orang islam, maka aku tak akan menerima mereka sebagai saksi.
  • Berkata, saya tak mau melakukan sekalipun itu sunat, dengan tujuan menghina.
  • Berkata, jika si fulan menjadi Nabi, saya tak mau percaya padanya.
  • Berkata, syara yang manakah ini? Dia berkata demikian ketika ada seorang yang alim memberikan fatwa tentang hukum syara dengan tujuan meremehkan.
  • Berkata, laknat Allah bagi semua orang alim. Dengan kata-kata ini dia menghendaki keseluruhan yang menyangkut salah satu Nabi.
  • Berkata, saya adalah orang bebas/tidak berurusan dengan Allah, bebas dari malaikat, bebas dari nabi, bebas dari syariat dan dari islam.
  • Berkata, ini bukan hukum syara, Dia berkata ketika ada salah satu hukum syara.
  • Berkata, saya tak kenal hukum syara, dengan maksud menghina hukum Allah.
  • Berkata, “Waka’sang di haaqoo sambil mengisi bejana”.
  • Berkata, “Pakaanat Saroobaa” sambil menuangkan minuman, dengan tujuan menghina.
  • Ketika berada disisi timbangan atau takaran, dia berkata, dengan tujuan menghina.
  • Ketika ada rombongan lewat dia berkata, “Waidzaa kaluu hum aw wajanuuhum yukhsirun” dengan tujuan menghina atau meremehkan Al-Quran. Demikian pula setiap lapad Al-Quran yang dibaca di suatu tempat dengan maksud menghina. Jika tidak maksud menghina, maka tidak kufur. Tapi Imam Ahmad bin Hajar mengatakan tidak jauh dari haram (tetap haram). Memaki nabi atau malaikat.
  • Berkata, jika saya shalat, maka saya pasti menjual wanita pelacur. Berkata, sejak saya shalat, saya tidak mendapatkan kebaikan.
  • Berkata, shalat itu tidak pantas bagiku, dengan tujuan menghina shalat, meremehkan, atau menggap halalnya meninggalkan shalat atau mendapat situasi buruk tentang shalat.
  • Berkata, kepada syarif (keturunan nabi Saw) aku ini musuhmu dan musuh kakekmu, dia bermaksud menghina Nabi Saw.
  • Atau berkata selain kata-kata tersebut (mulai awal) tapi sama buruknya dengan kata-kata yang di atas, juga menjadikan murtad.
  • Imam syekh Ahmad bin Hajar dalam kitab Al-I’lamu Biqowathil Islam, menghitung dan menerangkan banyak masalah murtad.
  • Imam Qodi Iyad juga demikian dalam masalah murtad dalam kitab Assyifa, seyogyanya kita melihat dua kitab itu. Siapa yang tak mengerti keburukan, tentu terjatuh kedalamnya.
    • Kesimpulan pernyataan/keterangan di atas, dikembalikan kepada Aqidah, perbuatan yang menunjukkan penghinaan dan meremehkan Allah, kitab-kitab, rasul-rasul, tanda agama seperti mesjid, hukum-hukum, atau janji dan ancman-Nya. Semua itu ada dua hukum, adakalanya kufur dan adakalanya maksiat. Karenanya, semua insan harus waspada dan hati-hati sekuat tenaga terhadap hal-hal di atas.

Wassalamu’alaikum wr.wbr.

 

Hal Ilmu : Di sini ….
Facebook Comments
style type="text/css"> #main-header .et_mobile_menu .menu-item-has-children > a { background-color: transparent; position: relative; } #main-header .et_mobile_menu .menu-item-has-children > a:after { font-family: 'ETmodules'; text-align: center; speak: none; font-weight: normal; font-variant: normal; text-transform: none; -webkit-font-smoothing: antialiased; position: absolute; } #main-header .et_mobile_menu .menu-item-has-children > a:after { font-size: 16px; content: '\4c'; top: 13px; right: 10px; } #main-header .et_mobile_menu .menu-item-has-children.visible > a:after { content: '\4d'; } #main-header .et_mobile_menu ul.sub-menu { display: none !important; visibility: hidden !important; transition: all 1.5s ease-in-out;} #main-header .et_mobile_menu .visible > ul.sub-menu { display: block !important; visibility: visible !important; }