Bacalah kutipan cerita berikut, kemudian reviu dengan teknik fishbone!

Kisah Sikap Seorang Anak Terhadap Bapaknya

Pada tahun ke-5 hijrah telah terjadi peperangan. Bani Musthaliq yang sangat terkenal. Penyebab peperangan itu adalah akibat dari pertengkaran Muhajir dengan seorang Anshar. Kemudian akibat pertengkaran itu menyebabkan perang diantara dua golongan tersebut dan masing-masing saling membela kaumnya. Hal itu hampir saja mengakibatkan pertempuran besar diantara mereka. Namun ada sebagian orang yang berusaha menyatukan dan mendamaikan diantara keduanya.

Abdullah bin Ubay adalah seorang munafik yang sangat terkenal. Ia memang telah memeluk agama Islam. Karena ia senantiasa menunjukkan kepada orang-orang bahwa dirinya adalah benar-benar orang Islam, maka ia dibiarkan begitu saja. Ketika ia melihat kejadian tersebut yang terjadi pada kaum Muslimin, maka dalam suasana yang panas itu, ia menambah-nambahkannya dengan menghina Nabi saw. Ia berkata kepada kawan-kawannya, “Apa yang kalian lakukan?” kalian telah membiarkan orang-orang itu (muhajirin)  tinggal di sini. Dan membagi-bagikan sebagian harta kalian kepada mereka sekarang juga tentu mereka akan tinggalkan Kota Madinah ini dan berkata, demi Tuhan jika kamu sampai di Madinah semua orang-orang terhormat akan mengeluarkan orang-orang yang hina dari Madinah.

Zaid bin Arqam ra. Adalah seorang anak kecil yang berada di sana ketika Abdullah bin Ubay mengucapkan demikian. Ia mendengar ucapan tersebut, dan ia merasa tidak rela atas ucapan itu. Maka ia menyahut, “Demi Allah! Kamulah yang hina, kamu hina dalam pandangan kaummu. Tidak akan ada yang membantumu. Sedangkan Muhammad saw. Adalah orang yang terhormat. Dan menurut Allah pun terhormat diantara kaumnya. Abdullah bin Ubay berkata, “Diamlah. Saya kan hanya bercanda.” Namun, Zaid ra. Segera menyampaikan hal ini kepada Nabi saw. Mendengar laporan tersebut, Umar ra, meminta izin kepada Nabi saw. Agar diizinkan untuk memenggal kepala Ubay dari badannya.

Ketika Abdullah bin Ubay mengetahui bahwa tingkah laku dirinya telah sampai kepada Nabi saw. Maka segera ia mendatangi Rasulullah saw dengan alasan-alasan palsunya. Dia berkata, Ya Rasulullah, saya tidak pernah berkata demikian. Zaid ra. Telah keliru bicara.” Sebagian orang yang berada di sekitar itu membela Abdullah bin Ubay. Mereka berkata, “Ya Rasulullah, Abdullah adalah seorang pembesar kaum kami dan ia adalah seorang yang terhormat. Maka sangat bertentangan sekali. Ucapan anak kecil itu yang tidak dapat dipercaya. Mungkin ia salah mendengar dalam memahaminya.” Rasulullah menerima pembelaan mereka. Dan Zaid ra. Mendengar hal ini, bahwa Ubay telah menemui Rasulullh saw. Denga sumpah palsunya dan menyatakan bahwa dirinya tidak bersalah. Bahkan ia menuduh Zaid lah yng telah berbohong. Dan ternyata alasan itu diterima oleh Nabi saw. Karena malunya, maka Zaid ra. Meninggalkan majelis Rasulullah saw. Karena rasa kecewanya, ia tidak pernah lagi hadir di majelis Rasulullah saw. Sehingga turunlah surat Al-Munafiqun yang menyatakan tentang kebenaran Zaid ra. Juga menyatakan bahwa Abdullah bin Ubay telah bersumpah palsu. Akhirnya, jelaslah persoalan mereka dengan Zaid. Dan kebohongan Abdullah bin Ubay pun telah diketahui oleh banyak orang.

 

Mari kita telaah kisah di atas, untuk membuat reviu dengan teknik fishbone.

What = Menceritakan kisah sikap Abdullah ra. Terhadap bapaknya

When = Pada tahun ke-5 hijrah

Where = di Madinah

Who =  Abdullah bin Ubay, Abdullah ra, Kaum Anshar, Kaum Muhajirin, Umar ra. Rasulullah saw.

Why = Sikap kaum munafiq yang melakukan kebohongan di depan Rasulullah saw.

How =

Abdullah bin Ubay memiliki seorang putra yang bernama Abdullah ra. Ketika Anaknya mendengar suatu hal yang merendahkan Rasulullah. Ia tidak rela walaupun ia harus berhadapan dengan orang terhormat. Akhirnya Abdullah bin Ubay pun mengakui kekeliruannya. Dan merasa bangga kepada anaknya yang telah masuk Islam dengan disiplin dan sungguh-sungguh.

Tempelkan jawaban-jawaban tersebut, sehingga berbentuk berikut.

IMG20160812093546

Melek Huruf dan Mempelajari Alam: Di sini ….

Facebook Comments

Share This Article