Kali ini, kita akan mempraktikkan cara Menulis Reviu dengan Teknik Paragraf AIH (Alasan, Isi buku dan Hikmah/ pesan moral).

Bacalah cerita rakyat asal Jawa Barat berikut!

Legenda Gunung Tangkuban Perahu

Pada zaman dahulu ada seorang raja yang bernama Sungging Perbangkara.  Ia suka berburu ke hutan. Namun dalam berburu kali ini ia tidak menemukan seekor pun binatang buruan. Ia merasa lelah dan langsung beristirahat. Ketika itu Sang Raja membuang air seni yang tertampung dalam batok kelapa. Seekor babi hutan betina bernama Celeng Wayung Hyang yang tengah bersembunyi sedang kehausan, ia kemudian meminum air seni sang raja tadi. Karena telah meminum air seni Sang Raja,  secara ajaib Wayung Hyang hamil dan melahirkan seorang bayi yang cantik.

Pada perburuan dikemudian hari, bayi cantik itu ditemukan sang raja di tengah hutan. Ia khawatir melihat bayi sendirian di tengah hutan. akhirnya dibawalah bayi tersebut ke keraton.  Dan diberi nama Dayang Sumbi. Dayang Sumbi tumbuh menjadi gadis yang amat cantik jelita. Banyak para raja dan pangeran yang ingin meminangnya, tetapi seorang pun tidak ada yang diterima.
Akhirnya para raja saling berperang. Atas permintaannya sendiri Dayang Sumbi pun mengasingkan diri di sebuah bukit ditemani seekor anjing jantan yaitu Si Tumang. Ketika sedang asyik menenun kain, torompong (torak) yang tengah digunakan bertenun kain terjatuh ke bawah bale-bale. Dayang Sumbi merasa malas, terlontar ucapan tanpa dipikir dulu, dia berjanji siapa pun yang mengambilkan torak yang terjatuh bila berjenis kelamin laki-laki, akan dijadikan suaminya, jika perempuan akan dijadikan saudarinya. Si Tumang mengambilkan torak dan diberikan kepada Dayang Sumbi. Akibat perkataannya itu Dayang Sumbi harus memegang teguh persumpahan dan janjinya, maka ia pun harus menikahi si Tumang. Karena malu, kerajaan mengasingkan Dayang Sumbi ke hutan untuk hidup hanya ditemani si Tumang. Pada malam bulan purnama, si Tumang dapat kembali ke wujud aslinya sebagai dewa yang tampan, Dayang Sumbi mengira ia bermimpi bercumbu dengan dewa yang tampan yang sesungguhnya adalah wujud asli si Tumang. Maka Dayang Sumbi akhirnya melahirkan bayi laki-laki yang diberi nama Sangkuriang. Sangkuriang tumbuh menjadi anak yang kuat dan tampan.

Suatu ketika Dayang Sumbi tengah mengidamkan makan hati menjangan, maka ia memerintahkan Sangkuriang ditemani si Tumang untuk berburu ke hutan. Setelah sekian lama Sangkuriang berburu, tetapi tidak nampak hewan buruan seekorpun. Hingga akhirnya Sangkuriang melihat seekor babi hutan yang gemuk melarikan diri. Sangkuriang menyuruh si Tumang untuk mengejar babi hutan yang ternyata adalah Celeng Wayung Hyang. Karena si Tumang mengenali Celeng Wayung Hyang adalah nenek dari Sangkuriang sendiri maka si Tumang tidak menurut. Karena kesal Sangkuriang menakut-nakuti si Tumang dengan panah, akan tetapi secara tak sengaja anak panah terlepas dan si Tumang terbunuh tertusuk anak panah. Sangkuriang bingung, lalu karena tak dapat hewan buruan maka Sangkuriang pun menyembelih tubuh si Tumang dan mengambil hatinya. Hati si Tumang oleh Sangkuriang diberikan kepada Dayang Sumbi, lalu dimasak dan dimakannya. Setelah Dayang Sumbi mengetahui bahwa yang dimakannya adalah hati si Tumang, suaminya sendiri, maka kemarahannya pun memuncak serta-merta kepala Sangkuriang dipukul dengan garpu sehingga terluka. Sangkuriang ketakutan dan lari meninggalkan rumah.

Sangkuriang kini telah tumbuh menjadi seorang pemuda yang kuat, sakti, dan gagah perkasa. Setelah sekian lama berjalan tanpa sadar tiba kembali di tempat Dayang Sumbi. Sangkuriang tidak mengenali bahwa putri cantik yang ditemukannya adalah Dayang Sumbi – ibunya. Dan Dayang Sumbi pun mulanya tidak menyadari bahwa sang ksatria tampan itu adalah putranya sendiri. Lalu kedua insan itu berkasih mesra. Saat Sangkuriang tengah bersandar mesra dan Dayang Sumbi menyisir rambut Sangkuriang, tanpa sengaja Dayang Sumbi mengetahui bahwa Sangkuriang adalah putranya, dengan tanda luka di kepalanya, bekas pukulan sendok Dayang Sumbi. Walau demikian Sangkuriang tetap memaksa untuk menikahinya. Dayang Sumbi sekuat tenaga berusaha untuk menolak. Maka ia pun bersiasat untuk menentukan syarat pinangan yang tak mungkin dipenuhi Sangkuriang. Dayang Sumbi meminta agar Sangkuriang membuatkan perahu dan telaga (danau) dalam waktu semalam dengan membendung sungai Citarum. Sangkuriang menyanggupinya.

Maka dibuatlah perahu. Dengan bantuan para guriang (makhluk halus), bendungan pun hampir selesai. Dayang Sumbi merasa khawatir, akhirnya ia menebarkan helai kain putih hingga bercahaya bagai fajar yang merekah di ufuk timur. Para guriang makhluk halus anak buah Sangkuriang ketakutan karena mengira hari mulai pagi, maka merekapun lari menghilang bersembunyi. Karena gagal memenuhi syarat Dayang Sumbi, Sangkuriang menjadi gusar dan mengamuk. Di puncak kemarahannya, bendungan yang berada di Sanghyang Tikoro dijebolnya, sumbat aliran sungai Citarum dilemparkannya ke arah timur dan menjelma menjadi Gunung Manglayang. Air Talaga Bandung pun menjadi surut kembali. Perahu yang dikerjakan dengan bersusah payah ditendangnya ke arah utara dan berubah wujud menjadi Gunung Tangkuban Perahu.

 

Contoh Reviu dengan Teknik Paragraf AIH dapat digambarkan berikut ini.

Alasan

Alasan saya membaca teks tersebut, karena ingin mengetahui sebuah cerita legenda yang mengisahkan suatu tempat yang menjadi tempat favourit untuk dijadikan tempat wisata. Dan kebetulan cerita rakyat ini berada di file komputer sekolah.

Isi Teks

Menjelaskan seorang raja yang suka berburu. Menemukan bayi di tengah hutan yang sebetulnya anaknya dan diberi nama Dayang Sumbi. Setelah Dayang Sumbi menjelma menjadi gadis yang cantik. Ia banyak diperebutkan oleh raja-raja yang ingin mempersuntingnya. Dayang Sumbi mengasingkan diri ditemani Si Tumang. Akibat ucapannya yang tidak terkontrol Si Tumang menjadilah suaminya dan lahirlah Sangkuriang.

Sangkuriang disuruh berburu, karena suatu hal malah daging yang disuguhkan kepada ibunya adalah hati Si Tumang. Dayang Sumbi marah sampai mengusir anaknya. Suatu waktu dewasa Sangkuriang bertemu kembali dengan ibunya. Mereka jatuh cinta, tetapi Dayang Sumbi sadar bahwa tidak mungkin menikah dengan anaknya. Dibuatlah syarat untuk membuat perahu dan membuat bendungan. Sangkuriang marah mengetahui Dayang Sumbi telah membuat akal-akalan. Dari Kemarahan tersebut, perahu yang dibuatnya menjadilah Gunung tangkuban Perahu.

Hikmah

Cerita tersebut memberikan pembelajaran, bahwa kalau kita berbicara harus dipikir dulu, memutuskan sesuatu harus dipikir dulu. Tetapi juga kita harus menepati janji.

Facebook Comments