Dalam slide yang ditampilkan pada materi GLS Jabar melalui WJLRC dijelaskan bahwa budaya membaca di Indonesia pada tahun 2012 berada di posisi ke-64 dari 65 negara peserta PISA. Dan pada tahun 2016 posisi Indonesia menempati urutan ke-60 dari 61 negara, satu tingkat di atas Botswana. Ini artinya kecepatan membaca sangat rendah, Menyimak bacaan sangat rendah, kemampuan bernalar juga sangat rendah dan menerjamahkan isi bacaan dengan benar pun sangat rendah.

Selanjutnya beberapa pakar berkomentar:

Menurut Ayip Rosidi, 2006, “Anak-anak Indonesia membaca 27 halaman buku per tahun  atau 1 halaman 15 hari.”

Taufik Ismail, 2006 menjelaskan, “Sejak Indonesia merdeka tidak ada 1 pun buku sastra yang wajib dibaca di sekolah. Telah terjadi Tragedi Nol Buku di Indonesia.”

Ahmad Baedowi  meneliti para wisudawan, terungkap bahwa para mahasiswa pada saat menjalani pendidikan di perguruan tinggi rata-rata hanya mampu  menamatkan buku  satu sampai dua judul saja (Republika, 7 April 2014)

Abdul Mu’ti, mengakui sikap malas membaca buku bukan hanya di tingkat kalangan mahasiswa tingkat sarjana (S1), tapi juga pada kelompok mahasiswa pascasarjana (S2). (Media Indonesia, 15 Januari 2011).

Terakhir, OECD (Organization of Economic Cooperation Development) memaparkan bahwa Budaya baca masyarakat Indonesia menempati posisi terendah dari 52 negara di kawasan Asia Timur. Rendahnya budaya baca tersebut  menyebar secara merata di semua segmen masyarakat.

Subhanallah, ini bukan kabar yang menggembirakan. Dan tidak bisa disikapi dengan pembiaran. Perlu upaya yang sungguh-sungguh dari semua pihak. Apalagi dalam era global ini, membaca berperan penting dalam kehidupan. Karena pengetahuan diperoleh melalui membaca. Oleh karenanya, keterampilan ini harus dikuasai dengan baik sejak dini.

Alhamdulillah, kini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengembangkan suatu gerakan yang disebut Gerakan Literasi Sekolah (GLS dan dengan adanya Gerakan Literasi Sekolah (GLS) itu diharapkan dapat mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut.

Sifat apriori diri dengan berbagai alasannya perlu diabaikan. Dengan tekad dan niat yang tulus, insya allah membaca akan menjadi sebuah tradisi . Lagi pula membaca adalah perintah pertama yang diwahyukan Allah kepada Nabi Muhammad SAW. Membaca adalah ibadah sama dengan ibadah-ibadah lainnya yang harus diperhatikan.  Dan yang namanya ibadah tentu banyak hikmah dan faedahnya. Allah memerintahkan membaca, karena Allah sangat sayang kepada umat-Nya.

Semoga hari-hari kita penuh keberkahan dengan banyak membaca. Amin.

 

Kembali ke Kategori: Di sini ….
Facebook Comments