Hasrat untuk Mengubah Diri

Ketika aku masih muda serta bebas berpikir dengan  khayalanku,

aku bermimpi untuk mengubah dunia

Seiring dengan bertambahnya usia dan kearifanku,

Kudapati bahwa dunia tidak kunjung berubah,

maka cita-cita itupun kupersempit

dan kuputuskan untuk hanya mengubah negeriku.

Namun tampaknya itu pun tiada hasilnya.

Ketika usia senja mulai kujelang,

lewat upaya terakhir yang penuh keputusasaan,

kuputuskan untuk mengubah murid-muridku dan keluargaku,

orang-orang yang paling dekat denganku.

Namun alangkah terkejutnya aku,mereka pun tak kunjung berubah

Kini, sementara berbaring di tempat tidur menjelang kematianku,  baru kusadari

Andaikan yang pertama-tama kuubah adalah diriku sendiri,

maka lewat memberi contoh membaca setiap hari sebagai panutan, mengembangkan literasi sebagai pijakan, dan menjadi contoh budi pekerti sebagai teladan

mungkin murid-murid dan keluargaku bisa kuubah,

Berkat inspirasi dan dorongan mereka,

kemudian aku menjadi mampu   memperbaiki negeriku

dan siapa tahu, bahkan aku juga bisa mengubah dunia.

 

An Anglican Bishop (1100 A.D), as writen in the crypts of Westminter Abby

(Quoted & published by House of Ideas, 1997)

 

Untaian kalimat indah yang penuh makna, menjadi inspirasi bagi banyak orang yang mendambakan perubahan. Puisi tersebut memberikan pembelajaran kalau menginginkan perubahan, maka harus belajar cara berubah. Harus dari mana kita memulainya? Sungguh refleksi yang luar biasa: “Andaikan yang pertama-tama kuubah adalah diriku sendiri.” Inilah cara yang paling bijak, mudah dan tidak akan sia-sia.

Cara menempuh perubahan yang dimulai dari diri sendiri adalah cara yang paling agung sepanjang masa.  Kemuliaanya tidak akan berkurang sedikit pun, meski seluruh makhluq menghinakannya. Ini adalah cara yang ditempuh Rasulullah SAW. ابدا بنفسك   (Mulailah dari dari diri sendiri). Lagi pula Allah SWT mempertanyakan dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لا تَفْعَلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (QS. Ash Shaff  : 2)

كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لا تَفْعَلُونَ

Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan (QS. Ash Shaff  : 3)

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلا تَعْقِلُونَ

Mengapa kamu suruh orang lain kebaktian, sedang kamu melupakan diri mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab? Maka tidaklah kamu berpikir? (QS. Al-Baqarah : 44).

Dalam sebuah hadits riwayat Ahmad, yang dihasankan oleh Syaikh al-Albany dalam Shahih atTarghib wat Tarhiib disebutkan bahwa, “Tidaklah akan istiqomah iman seorang hamba sampai istiqomah hatinya, dan tidak akan istiqomah hatinya sampai istiqomah lisannya.”

Hadits tersebut menunjukkan, bahwa ternyata hati adalah pusat perubahan.

Ketahuilah, bahwa dalam tubuh terdapat mudghah (segumpal daging), jika ia baik, maka baik pula seluruh tubuhnya. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati. (HR. Bukhari dan Muslim).

Semoga bermanfaat.

Kembali ke Kategori: Di sini ….
Facebook Comments