Jiwa Hampa Raga (Bagian Kesepuluh)

Jiwa Hampa Raga: Sarat Uji Nyali

0
2647

Jiwa Hampa Raga: Sarat Uji Nyali

Mereka menafakuri perjalanan berkemah hari itu. Beberapa kali terjadi pengalaman aneh yang tak masuk akal. Pengalaman konyol sampai cerita yang menakutkan telah dilalui. Suatu perjalanan yang sarat dengan uji nyali.

Pengalaman yang paling menyiksa mental adalah pengalaman yang baru saja terjadi dengan kepungan monyet yang galak-galak. Monyet itu betapa marahnya. Sejenak pikiran mereka berputar pada cerita yang dialami Pahlevo, bertanya kepada seorang nenek yang membawa kayu bakar, dan berputar-putar pada jalan yang curam dan terjal. Ketakutan mulai menghampiri. Andai ada yang tiba-tiba berbicara suka ada yang tersentak kaget.

 “Huwis….” Suara batuk Auwal mengagetkan teman-temannya.

Serentak teman-temannya pada loncat.

“Auwal ….” Lagi sensi begini, kalau batuk jangan keras-keras!” teriak Pahlevo.

“A… a… aku tak kuat.” kata Auwal.

Mereka menjadi sangat sensitif. Sampai di suatu jalan ada pohon yang condong ke jalan.  Mereka berjalan di bawah pohon itu. Tiryad yang paling awal melintasi pohon itu, tidak melihat apa pun yang mengejutkan. Tetapi ketika Auwal mau melintasi pohon itu, ia berteriak dan berlari ketakutan.

“Awas ada ular!” teriak Auwal yang melihat ular di pohon.

Teman-temannya pun memang melihat ular melilit batang pohon.

Spontan mereka menjauh dari tempat itu. Tidak begitu lama meraka mendekati pohon kembali. Alfayedo, Pahlevo, dan Rohamy harus meneruskan perjalanan dengan melewati batang pohon yang menghalangi orang yang mau lewat. Harus berjongkok untuk melewati jalan tersebut.

“Ke mana ular tadi?” tanya Alfayedo.

Mereka memperhatikan ke sekitar pohon. “Aman… ularnya sudah pergi. Ayo lewat! Kata Tiryad.

Beberapa rintangan alam yang menghadang, tidak membuat mereka putus asa dalam melanjutkan perjalanan, apalagi menghentikan ayunan kakinya. Mereka harus tetap mengayuh supaya sepeda tidak jatuh. Kesukaran yang mereka hadapi justru menambah semangat berusaha untuk cepat sampai pada tujuan. Dan timbul kesadaran kedekatan kepada Dia yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.

Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Dan akhirnya mereka sampai ke tempat yang dituju. Tenda yang dibawa dihamparkan di tanah. Mereka mengambil wudlu untuk shalat berjama’ah. Bersujud syukur sambil memohon perlindungan-Nya.

Dilanjutkan dengan membuka kembali timbel yang sudah dipersiapkan.

“Bukan main nikmatnya makan hari ini.” kata Tiryad.

“Alhamdulillah, makanan tak ada yang tersisa.” ujar Alfayedo dikuti gelak tawa teman-temannya.

Keceriaan mereka terlihat kembali. Mereka bersemangat mendirikan tenda dan mengumpulkan kayu bakar untuk persiapan menghadapi dinginnya malam.

Di sekitar danau ada pula beberapa tenda telah berdiri. Ada yang sedang memancing di bibir danau. Ada yang bermain gitar. Ada pula yang sedang memasak.

Alam di sana begitu memesona. Walau danau tidak begitu luas. Tetapi udara yang disuguhkan begitu sejuk dan nyaman. Di kelilingi bukit dengan goresan lukisan alam di sore hari tergambar luas di kanfas angkasa raya. Warna yang serasi berubah mengikuti perjalanan dimensi waktu. Air berwarna warni terpantul di hamparan danau  yang alami.

Sang surya perlahan meninggalkan kebersamaannya. Transisi pergantian siang ke malam semakin menghampiri. Tiryad dan kawan-kawannya masih di luar tenda. Terasa ada hembusan angin kencang di antara dua pohon besar yang diikuti gelindingan bola sebesar tiga kali bola basket turun dari pohon dengan cepat. Bola itu dipenuhi mata yang terpancar tajam melihat ke berbagai penjuru.

“Apa itu?” teriak Rohamy.

Mereka berdiri menyaksikan hanya dalam hitungan per detik. Sebuah bola yang penuh dengan mata secepat kilat turun dari pohon besar dan terbang lurus ditelan pepohonan yang mulai gelap.

 .

««««« sastra «««««   ««««« kebahasaan «««««

.

Klik Topik di bawah untuk melihat bagian lainnya. Jiwa Hampa Raga

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here