See Heeath adalah seorang anak yang terkenal memiliki banyak kemampuan lebih di kampung Suka Mundur. Dia sangat dihormati dan disegani teman-temannya. Kalau dia sudah memiki keinginan sesuatu, tak seorang pun yang berani membantahnya. Semuanya tunduk kepadanya. Apalagi dia pengambil keputusan yang bijaksana. Orang tuanya merupakan tokoh  masyarakat. Dan beliau merupakan orang pintar, sehingga rumahnya tak pernah sepi dari tamu. See Heeath kadang sukan bertingkah aneh.

Suatu waktu, aku melihat See Heeath berjalan sendirian. Padahal jalan tersebut terkenal angker. Kalau hari sudah sore, jalan tersebut sangat sepi. Orang lebih baik memilih jalan lain dari pada melewati jalan tersebut. Jalan tersebut tanpa memiliki penerangan sama sekali. Ditambah di sisi kanan dan kirinya ada pemakaman tua.  anak

Baru beberapa meter menapaki jalan, See Heeath tiba-tiba terdiam. Dia memandang pemakaman sebelah barat yang di dalamnya berbaris beberapa pohon asem. Seolah-olah ada sesuatu yang menggoda dalam pikirannya, pandangannya tertuju ke pohon asem tersebut. Tak lama kemudian dia menunduk dan mengangguk-anggukan kepala tanda setuju. Aku tak tahu sedang berkomunikasi dengan siapa dia itu? Yang jelas mulutnya terlihat mengatakan sesuatu. anak

Aku mengira See Heeath akan mendekati pohon asem tersebut. Tetapi  baru beberapa langkah dia sudah memasang kuda-kuda. Sambil memanjatkan do’a-do’a, kaki kanannya mulai diayunkan ke depan satu langkah, diikuti kaki kiri dan kaki kanannya melangkahkan kembali ke belakang kanan. Gerakan yang sama diulanginya lagi. Cuma bedanya yang diayunkan kaki kiri dulu ke depan, diikuti kaki kanan dan kaki kiri diayunkan ke belakang kiri. Kedua tangannya pun ikut memasang jurus mengikuti gerakan irama kaki.

Walaupun jari jemari See Heeath sudah mengajak seseorang yang tak terlihat untuk menyerang lebih awal. Aku tak berani mendekatinya, apalagi membantunya. Aku melihat saja perjuangan See Heeath dari kejauhan. Mataku terhipnotis ingin terus memperhatikan akhir dari pertarungan aneh dengan lawan yang tak terlihat tersebut. anak

Aku pun tak terlalu khawatir. Aku percaya kepada kemampuan See Heeath.  See Heeath terlihat seperti terkena pukulan di pipi kirinya. Kepalanya agak menenggok ke sebelah kanan. Dan dia mengusap pipi sebelah kiri. Rupanya dia belum siap betul. See Heeath mulai mengeram dan terlihat emosinya mulai naik. Dia berbalik membidik sasaran untuk membalas. Dua langkah kakinya maju ke sambil kepalan tangannya dipukulkan. Beberapa kali tangan kanan dan kiri silih berganti dipakai untuk memukul. Aku tidak melihat apakah pukulannya kena target atau tidak. Dan aku tidak tahu kondisi yang dipukul. Karena betul-betul makhluk yang diserang itu tidak menampakkan wajahnya. Yang jelas untuk serangan pertamanya See Heeath sudah mengeluarkan beberapa jurus.

Nafas See heath sudah mulai turun naik. Terlihat dia mundur kembali untuk mengatur serangan berikutnya. Kuda-kudanya sudah siap kembali menyerang atau di serang. Kali ini See Heath mulai menangkis-nangkis serangan sambil sesekali menyerang balik. Tetapi terlihat serangannya dapat ditangkis musuh. See Heeath betul-betul terdesak. Sampai-sampai dia terjungkir ke jerami di pinggir jalan. Beberapa kali dia berjungkir-jungkir di atas tumpukkan jerami. Dia merebahkan badannya dan menangkis pukulan yang datang.

Susah sekali dia bangkit dari timpukan jerami itu. Terus berguling-guling menghindari lawan. Dan dia tersungkur tak terlihat pergerakan melawan kembali. Mungkin musuh sedang memberi kesempatan kepada See Heeath untuk bangkit. See Heath mulai terlihat berani duduk. Dan berdiri mempersiapkan jurus berikutnya.

Kaki-kakinya mulai diayunkan untuk menyerang. Beberapa kali serangan kakinya mungkin mengenai lawannya. Karena dia terlihat sangat puas dengan gerakannya. Diikuti gerakan tangan dan ayunan kaki mulai dipadukan untuk menyerang.  Gerakan Jet Lee pun mulai diperagakan.

Hingga suatu ketika, dia menendang dengan sangat kerasnya. Dia menjerit menangis kesakitan. Ternyata yang ditendang itu adalah patok yang tertimbun tumpukan jerami. Kakinya berdarah. Dia terus menjerit-jerit menahan sakit.

Akhirnya, aku menghampirinya. Aku tanyakan,  “Kamu itu tadi berkelahi dengan siapa?” kok, seru banget. See Heeath tertunduk. Dengan sedikit malu bercampur sakit. Dia berkata, “Ah, aku jadi malu.” Rupanya See Heeath sedang berlatih silat siang itu. anak

kecilnyaaku
Cerpen: Curhatan Ketika Istirahat : Klik di sini …..
Facebook Comments