Tepat pukul 00 malam Selasa Pahing. Aku baru bisa mengistirahatkan bola mataku. Aku sudah sangat mengantuk. Bola mataku yang indah hampir seharian dipakai untuk  bermain dengan computer. Maklum baru-baru ini aku sedang ketagihan menikmati belajar menulis. Dan tulisan yang aku buat bermaterikan tadarus ayat dalam mengisi bulan Ramadhan. Hasil tulisan tersebut dapat dijadikan sebagai bahan postingan di web yang baru satu bulan dibuat. sehelai rambut putih

Malam itu tak seperti biasanya. Begitu naik kasur langsung saja plek aku tertidur. Nikmat sekali rasanya. Walaupun tanpa hiasan mimpi. Tetapi Sayang dalam tidur yang begitu nyenyak it. Aku terbangunkan oleh suara rintihan seekor nyamuk yang terus saja berputar-putar mengelilingi telingaku. Seolah tak bosan dan rasa penasaran. Mungkin sedang mencari sesuatu di sekitar ditelingaku.

Aku protes kepada nyamuk tersebut. Tanganku mulai diayunkan agar nyamuk tidak mencari sesuatu hal yang ada di sekitar telingaku. Karena aku rasa memang tidak ada sesuatu hal yang harus dicari di sekitar telingaku. Lama-lama, Aku merasa kesal juga dan kedua tanganku mulai mencari sasaran untuk ditepukkan ke sumber suara. Malah demikian, nyamuk semakin bergembira melihat reaksiku dan terus mencari sesuatu dan memutar-mutar telinga.

Sudah diganggu suara nyamuk. Aku mendengar juga suara tangisan kesedihan yang luar biasa. Awalnya aku tak mau bangun. Karena tidur baru beberapa menit saja. tetapi setelah mendengar isak tangisan yang kedua. Aku terpaksa bangun. Dan kulihat anak-anak, ternyata sedang nyenyak tidur. Tidak terlihat tanda-tanda menangis. Aku pun kembali memejamkan mata.

Tak lama kemudian aku mendengar lagi suara isak tangisan kesedihan yang sama. Aku penasaran ingin mendengar suara tangisan tersebut darimana asalnya. Aku mulai meninggalkan kasur yang sebenarnya masih kurindukan untuk ditiduri. Aku pergi ke Toilet dulu. Tangisan itu terdengar lagi, tetapi mendengar isak tangisan ini bulu kudukku mulai merinding. Di Toilet, aku melihat selembar rambut yang sudah agak putih. Panjang dan ketebalannya tidak seperti rambut manusia. Rambut itu menempel di sekitar telingaku.

Kusimpan rambut yang membuat aku penasaran tersebut di sehelai kertas HVS yang tersimpan di meja makan. Aku langsung naik ke kamar lantai atas. Karena aku mendengar sumber suara tangisan ada di atas. Perlahan kuayunkan langkah kaki menapaki tangga-tangga lantai. Ketika sampai di lantai atas. Suara plak…plak….plak…. membuat jantungku hampir copot.  Kakiku menendang kelereng yang sedang berdiam sendirian. Hingga loncat berlari menapaki tangga-tangga yang baru saja kulalui.

Kuacuhkan tingkah laku kelereng itu terus berputar. Aku konsentrasi mendengar sumber suara isak tangisan yang sesekali terdengar. Berhenti lagi. Sesekali terdengar lagi dan berhenti lagi. Sayup-semayup tangisan tersebut menghibur malam yang semakin sepi.

Aku berdiam diri di antara dua balik pintu. Balik pintu yang satu menuju ke kamar. Dan balik pintu yang satunya lagi menuju ke dak luar rumah. Telingaku siap menguping lagi sumber suara. Betul suara isak tangis mulai jelas kutemukan. Ternyata berasal dari luar rumah. Dengan perlahan kubuka pintu menuju dak. Eh, brass bayangan putih menyambar menjauhi pintu. Ternyata seekor kucing berlari dan merasa terganggu olehku. Astaghfirullah. Lagi-lagi membuat denyut nadiku bergerak cepat.

Tak lama kemudian, suara isak tangis itu terdengar kembali. Aku melihat-lihat ke halaman rumah dan kebun yang banyak ditumbuhi rumput ilalang. Ternyata sumber suara isak tangis bukan dari rumput-rumput yang memadati kebun. Sumber suara itu ada di radio yang sedang bercerita di tengah malam, menembus semayup kesunyian malam. Aku pun turun kembali untuk melanjutkan bermesraan dengan bantal guling.

Pagi harinya aku ceritakan kejadian semalaman ke seisi rumah. Dan aku tunjukkan selembar rambut yang sudah mulai memutih itu. Ternyata itu bukan rambut, tetapi selembar benang yang terpaut dari baju yang kupakai.

Aduh malam yang indah.

Terima kasih.

kecilnyaaku

 

Cerita Hantu di Kampungku : Klik di sini ….
Facebook Comments