Yakin dan Ikhlas dalam Berdo’a

0
474

[td_smart_list_end]Kalau kita meminta sesuatu kepada sesama manusia, terus apa yang kita pinta tersebut tidak dipenuhi, satu kali, dua kali, tiga kali mungkin masih tidak merasa apa-apa. Tetapi kalau terus-terusan kita meminta pertolongan, minimal akan merasa malu untuk mendatangi yang ke empat atau yang kelima kalinya. Lebih jauh lagi bisa timbul rasa kecewa kalau yang diminta pertolongan tersebut tidak bisa memenuhinya. Berbeda kalau kita memohon kepada Yang Maha Kaya, yang mempunyai segala apa yang ada di langit dan di bumi. Meminta kepada-Nya harus dilakukan berulang-ulang. Tidak ada kata bosan atau mengeluh dengan perkataan, “Ya kalau berdo’a memang sering, tetapi Allah belum mendengar do’a saya.” Dalam berdo’a harus yakin dan ikhlas. Sebagai mana Allah telah berfirman:

قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا

Artinya, “Ia berkata “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku.” (QS. Maryam : 4)

وَنَادَى نُوحٌ رَبَّهُ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنْتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ

Artinya, “Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.”  (QS. Huud : 45)

Selain dengan hati yang ikhlas dan merasa tidak bosan-bosan dalam memanjatkan do’a. kita pun perlu memperhatikan tata cara bermohon kepada Allah, yaitu tidak usah menggunakan suara keras-keras yang melampaui batas. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui baik yang tersembunyi di dalam dada atau pun yang nyata. Sebagaimana firman-Nya:

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

Artinya, “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al A’raaf : 55)

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ وَلا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ

Artinya, “Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. Al A’raaf : 205)

قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى وَلا تَجْهَرْ بِصَلاتِكَ وَلا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلا

Artinya, “Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.” (QS. Al Israa’ : 110)

Ayat ini menjelaskan, bahwa janganlah membaca ayat Al Quran dalam shalat terlalu keras atau terlalu perlahan tetapi cukuplah sekedar dapat didengar oleh ma’mum.

Wallahu a’lam

Semoga bermanfaat.

««««« menu «««««

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here