Pada kesempatan ini, saya ingin mengajak kepada diri untuk memeriksa kembali apakah semua perbuatan kita dikerjakan dengan peuh keikhlasan? Pertanyaan ini menjadi bahan renungan, supaya amal perbuatan yang dilakukan tidak sia-sia. Karena Allah telah memerintahkan dalam firman-Nya :

وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ            
Artinya: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan juga agar mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” (QS. Al-Bayyinah : 5)
            Dalam tafsir Al-Qur’an dijelaskan bahwa ikhlas adalah meniatkan semua ibadah mereka yang tampak maupun tersembunyi karena mengharap ridha Allah dan agar dapat dekat di sisi-Nya. Lurus berarti jauh dari syirik (mempersekutukan Allah) dan jauh dari kesesatan, atau berpaing dari seluruh agama yang bertentangan dengan tauhid.
            Dr. Ahmad Farid dalam bukunya Olah Raga Hati menyebutkan bahwa, “Ikhlas adalah membersihkan tujuan dalam mendekatkan diri kepada Allah dari semua noda dan cela.
Lebih lanjut, Beliau menyebutkan beberapa pendapat tentang pengertian ikhlas. Ada yang berpendapat bahwa ikhlas adalah menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan dalam ketaatan. Ada juga yang berpendapat, ikhlas adalah melupakan pandangan makhluk dan mengharapkan pandangan Sang Pencipta semesta.
            Rasulullah SAW. Telah bersabda, “Ikhlas adalah rahasia-Ku yang Aku simpan di dalam kalbu orang yang Aku sukai di antara hamba-hamba-Ku.”
Dalam hadits Zayd Bin Arqam Rasulullah kemudian ditanya, “Apa tanda keikhlasannya?”  Engkau memagarinya dari segala sesuatu yang terlarang.” Beliau juga pernah bersabda , “Ikhlaslah, pasti yang sedikit akan mencukupimu.” Zayd Bin Arqam mendengar pula bahwa Rasulullah SAW. Bersabda, “Allah telah berjanji bahwa seseorang dari umatku yang datang kepadaku dengan membawa Laa ilaaha illallah, tanpa dikotori sesuatu apa pun, pastilah ia masuk surga. Mereka lalu bertanya, “Apa gerangan yang bisa mengotorinya?” Beliau menjawab, “Tamak terhadap dunia, sibuk mengamalkannya, kikir terhadapnya, ucapannya seperti nabi, tetapi perbuatannya seperti penguasa zalim.”
وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلا
Artinya: “ Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang dengan ikhlas tunduk kepada Allah, sedang dia mengerjakan kebaikan dan mengikuti agama Ibrahim yang lurus. Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.” (QS. An-Nisa : 125).
            Semoga amal-amal yang telah kita kerjakan menjadi amal yang ikhlas, dengan menyerahkan tujuan dan amal tersebut hanya kepada Allah. Semoga amal kebaikan yang sudah kita lakukan tidak seperti ancaman firman Allah berikut:
   وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُور
Artinya: “Dan Kami akan perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami akan jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (QS. Al-Furqoon : 23)
Rasulullah SAW. Bersabda: 
إِنَّ الكَافِرَ إِذَا عَمِلَ حَسَنَةً ، أُطعِمَ بِهَا طُعمَةً مِنَ الدُّنيَا ، وَأَمَّا المُؤمِنُ ، فَإِنَّ اللَّه تعـالى يَدَّخِرُ لَهُ حَسَنَاتِهِ في الآخِرَةِ ، وَيُعْقِبُهُ رِزْقاً في الدُّنْيَا عَلى طَاعَتِهِ
“Sesungguhnya orang kafir, apabila mengerjakan amal yang baik, maka akan diberi makanan karenanya di dunia. Adapun orang mukmin, maka Allah Ta’ala akan menyimpan kebaikannya di akhirat dan akan mengaruniakan rezeki di dunia karena ketaatannya.” (HR. Muslim).
Demikianlah
Semoga bermanfa’at
 kecilnyaaku
23 Mei 2016
Facebook Comments