Bismillaahirrahmaanirrahiim. Renungan kali ini mengenai hidup adalah merupakan pilihan-pilhan.
Segala puji hanyalah milik Allah Tuhan semesta alam. Saya memuji-Nya, meminta pertolongan-Nya, meminta ampunan-Nya, dan berlindung kepada-Nya dari keburukan diri dan pekerjaan-pekerjaan. Saya berani bersaksi bahwa tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Allah yang tiada sekutu bagi-Nya, dan saya berani bersaksi bahwa Nabi Muhammad SAW. adalah hamba dan rasul-Nya.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya. Dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran [3]: 102)
Kalau dirasa-rasa memang hidup itu adalah pilihan-pilihan. Berdasarkan berbagai faktor seperti karena kebiasaan, keilmuan, kondisi fisik dan lingkungan, faktor keimanan dan sebagainya kita memutuskan pilihan-pilihan itu ada yag spontan, diputuskan dengan cepat, ada pula keputusan yang memerlukan perenungan mendalam. Yang lebih hebat lagi kita belum pernah melihat ada orang yang memutuskan yang sama persis. Tujuannya sama untuk belajar di kelas yang sama. Tetapi dalam waktu yang berbarengan tidak ada yang sama dalam menentukan posisi duduk. Itulah hidup merupakan pilihan-pilihan.
Dalam memutuskan pilihan-pilihan itu kadang kita terjebak memutuskan hal yang kurang tepat. Niatnya sudah bagus mau shalat. Eh sudah wudlu ada teman yang memanggil kita. Kita malah asyik ngobrol dengan teman. Obrolan kita sampai mengganggu orang yang sedang shalat. Akhirnya mendapat teguran.
Begitulah hal yang lainnya. Kalau keputusan yang kita buat dapat mengakibatkan kerusakan atau kekacauan, kita sampai melanggar tata tertib sekolah, maka pihak sekolah akan menegur bahkan menghukum kita. Kepada orang tua kita berbuat salah: Satu kali, dua kali, tiga kali mungkin masih dibiarkan, tetapai ke empat kali dan seterusnya saya pastikan dia akan mendapatkan hukuman atau teguran.
Jika kesalahan yang dibuat antar sesama manusia akan menimbulkan bahaya, maka kesalahan akibat tidak melaksanakan perintah Allah atau melanggar larangan-Nya, maka akan lebih berbahaya lagi. Yang menjadi pertanyaan, mengapa Allah tidak langsung menghukum kita? Padahal seringkali kali kita pernah meninggalkan shalat? Berapa kali kita sengaja membatalkan puasa wajib?  Berapa kali kita menyakiti orang lain? Tapi kita belum pernah dipukul oleh Allah. Padahal Allah berfirman:

وَالَّذِينَ يَمْكُرُونَ السَّيِّئَاتِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَكْرُ أُوْلَئِكَ هُوَ يَبُورُ

Artinya, “Adapun orang-orang yang merencanakan kejahatan mereka akan mendapat azab yang sangat keras, dan rencana jahat mereka akan hancur.”
Jawabannya: azab Allah itu tidak langsung diberikan kepada yang berdosa, Mari kita renungkan:

وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَى ظَهْرِهَا مِن دَابَّةٍ وَلَكِن يُؤَخِّرُهُمْ إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى فَإِذَا جَاء أَجَلُهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِعِبَادِهِ بَصِيراً

Artinya, “Dan sekiranya Allah Menghukum manusia disebabkan apa yang telah mereka perbuat, niscaya Dia tidak akan Menyisakan satu pun makhluk bergerak yang bernyawa di bumi ini, tetapi Dia Menangguhkan (hukuman)nya, sampai waktu yang sudah ditentukan. Nanti apabila ajal mereka tiba, maka Allah Maha Melihat.” (QS, Fatir : 45)
            Kalau Allah langsung menyiksa manusia yang tidak taat dan melanggar perintahnya, maka tidak ada lagi manusia yang bisa hidup, Kita bayangkan kalau seekor ular yang bernama “Sujaul Aqra” muncul di dunia bukan di alam kubur nanti, maka manusia akan habis kena pukulannya. Sujaul Aqra itu suaranya bagai halilintar: Ia akan berkata, “Aku disuruh oleh Allah memukulmu sebab meninggalkan sholat dari Subuh hingga Dhuhur, kemudian dari Dhuhur ke Asar, dari Asar ke Maghrib dan dari Maghrib ke Isya’ hingga Subuh”. Ia dipukul dari waktu Subuh hingga naik matahari, kemudian dipukul dan dibenturkan hingga terjungkal ke perut bumi karena meninggalkan Sholat Dhuhur. Kemudian dipukul lagi karena meninggalkan Sholat Asar, begitulah seterusnya dari Asar ke Maghrib, dari Maghrib ke waktu Isya’ hingga ke waktu Subuh lagi. Demikianlah seterusnya siksaan oleh “Sajaul Aqra” hingga hari Qiamat.

Kalau sujaul Aqro ini menyiksa di alam dunia, maka tidak ada lagi manusia yang bisa hidup. Allah menunda siksanya وَلَكِن يُؤَخِّرُهُمْ إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى

Ancaman Allah Ta’ala terhadap orang-orang yang meninggalkan sholat bukan sekedar gertakan belaka. Dalam suatu keterangan sebanyak 15 jenis siksa bagi orang yang meninggalkan shalat. Sungguh ancaman Allah Ta’ala akan terbukti kelak di akhirat.  “Rasulullah SAW, diperlihatkan waktu isra miraj: pada suatu kaum yang membenturkan kepala mereka pada batu, Setiap kali benturan itu menyebabkan kepala pecah, kemudian ia kembali kepada keadaan semula dan mereka tidak terus berhenti melakukannya. Lalu Rasulullah bertanya: “Siapakah ini wahai Jibril”? Jibril menjawab: “Mereka ini orang yang berat kepalanya untuk menunaikan Sholat fardhu”. (Riwayat Tabrani). Orang yang meninggalkan sholat akan dimasukkan ke dalam Neraka Saqor.

Kita masih tenang-tenang saja meninggalkan shalat. Karena sekarang tidak diapa-apakan oleh Allah. Tetapi فَإِذَا جَاء أَجَلُهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِعِبَادِهِ بَصِيراً

Allah yang maha rahman yang maha rahiim menghendaki agar kita bertobat.
Allah SWT. Berfirman :
“Katakanlah, “Hai hamba-hamba- Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong” (QS. Az-Zumar, 53-54)

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

23 Mei 2016

Facebook Comments

Share This Article