Berbagai kesibukan dan kesenangan yang telah dianugrahkan Allah di dunia, tidak boleh menutup pikiran kita untuk mengikuti kebenaran. Rasulullah saw. Sebagai suri tauladan kita menghendaki agar umatnya memiliki budaya tafakur. Karena Allah menyadarkan hati manusia agar berhati-hati guna kebaikan, kemajuan dan kemanfaatan hidupnya.

“Tafakur” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti n 1 renungan: perenungan; 2 perihal merenung, memikirkan, atau menimbang-nimbang dengan sungguh-sungguh; pengheningan cipta. Sedangkan menurut Junus tafakur secara bahasa bermula dari  (تَفَكَّرَ يَتَفَكَّرُ تَفَكُّرًا) mempunyai arti perihal berpikir. Dan Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa, “Maka menghadirkan dua ma’rifat yang terdahulu (yang berada dalam hati) untuk sampai pada ma’rifat yang ketiga disebut tafakur.”
Firman Allah swt yang memerintahkan bertafakur, Antara lain:

لَوْ اَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرَأَنَ عَلَي جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَتِلْكَ الأَمْثَلُ نَضْرِبُهاَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ

Artinya, “Kalau sekiranya Kami menurunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah SWT.Dan perumpamaan-peumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لِّأُوْلِي الألْبَابِ – الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللّهَ قِيَاماً وَقُعُوداً وَعَلَىَ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذا بَاطِلاً سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ –

Artinya, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau Menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Al-Imran : 190-191).

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلاَ تَعْقِلُونَ

Artinya, “Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab (Taurat) Tidakkah kamu mengerti? (QS : Al-Baqarah : 44)

أَفَمَن يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَى إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُواْ الأَلْبَابِ

Artinya, “Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran.” (Qs. Ar-Ra‘d : 19).
Kalau semua ayat-ayat dikutif, maka akan terlalu banyak. Yang jelas bahwa Allah begitu menghargai akal pikiran yang digunakan bertafakur. Untuk itu mulai sekarang kita mulai praktik saja belajar bertafakur yuk! Semoga dengan banyak bertafakur dapat menjadi jembatan menuju kemuliaan dunia dan akhirat.
Amin ….
 kecilnyaaku
19 Mei 2016
             
Facebook Comments

Share This Article