Kali ini saya ingin menyapa agan-agan yang pernah membaca postingan saya. Bagaimana sehat semuanya? Semoga Allah menyehatkan agan semua, memberikan rizki yang banyak, ditambah ilmu, dan dilimpahkan berbagai macam kebaikan untuk agan.Gan, walau pun saya belum level untuk menulis, apalagi beberapa hari ini, saya telah mencoba mengulas tentang ayat Allah, Ada ayat Allah di Pangandaran, ayat  Allah pada Laut, ayat Allah pada Tumbuhan. Tetapi saya mempostingkan tulisan-tuliasan tersebut dengan maksud mengajak kepada diri saya untuk selalu mengingat Allah di setiap waktu dan di setiap tempat. Mudah-mudahan, bisa melakukannya baik dalam situasi berdiri, duduk atau berbaring.
Dengan demikian, saya menjadi tidakbocah a bersyukur kepada-Nya. Sementara hidup terus berjalan. Dan saya masih belum tahu sudah sampai di mana menjalaninya. Kalau tidak memperbarui lagi keimanan, saya takut lupa beneran. Lupa dari mana, sedang di mana, dan mau kemana? Memang saya merasakan sangat sulit kalau membicarakan keimanan. Karena keimanan itu bersifat non materi. Tidak tampak, tidak bisa dilihat, tidak bisa diraba. Kita baru bisa melihat keimanan, yaitu dari lisan yang diucapkan, dari perbuatan yang biasa dilakukan, dan dari hati.
Walau pun demikian, sebenarnya bisa dipelajari. Dan kita terus mencoba meningkatkan ilmu itu tidak sebatas pengetahuan saja. Tetapi, lebih ditelusuri sampai kepada mendapatkan Rido Allah. Dengan demikian ada nilai tambah.
Untuk mengenal Allah dapat dilakukan dengan berbagai cara, termasuk kita menafakuri hal-hal yang telah diciptakan-Nya. Contohnya, Allah telah menyediakan udara yang begitu luar biasanya dan gratis untuk dihirup setiap saat. Dan Allah tidak pernah memungut pajak sepeser pun. Sebaliknya, saya merasa karena adanya udara saya bisa hidup. Kalau tidak ada udara, maka tidak bisa hidup. Tetapi, kalau pertanyaan yang tidak lumrah diajukan. Bagaimana kalau Allah telah mengambil semua udara yang ada di muka bumi ini? Apakah udara mampu memberikan kehidupan? Kalau udara sudah ditiadakan oleh Allah. Udara bisa menolong saya? Jadi, sebenarnya, yang memberikan kehidupan itu adalah Allah yang menciptakan udara.
Ketika saya belajar di sekolah, saya mendapatkan pelajaran bahwa sumber energi yang terbesar di muka bumi adalah matahari. Matahari dapat memberikan sumber energi panas pada berbagai benda di bumi. Dalam pancarannya, matahari memberikan penerangan di muka bumi dalam berbagai bentuk. Apabila mengenai permukaan daun, maka akan terjadi fotosintesis. Energi matahari dapat di ubah menjadi energi listrik. Dan dapat berubah lagi menjadi energi- energi yang lainnya yang sangat banyak memberikan manfa’at bagi kehidupan.
Tetapi, apabila energi matahari sudah dicabut pancaran sinarnya oleh Allah, apakah masih bisa memberikan berbagai energi kepada kita? Masih bisa menerangi bumi ini dan dapat menolong kehidupan? Jadi, siapa yang bisa memberikan energi, yang menerangi, yang bisa memberikan manfaat?  Tetapi, mengapa kita sering melupakan-Nya? Sering tidak bersyukur Kepada-Nya?
Wallahu a’lam ….
Renunganku
19 Mei 2015


Facebook Comments
style type="text/css"> #main-header .et_mobile_menu .menu-item-has-children > a { background-color: transparent; position: relative; } #main-header .et_mobile_menu .menu-item-has-children > a:after { font-family: 'ETmodules'; text-align: center; speak: none; font-weight: normal; font-variant: normal; text-transform: none; -webkit-font-smoothing: antialiased; position: absolute; } #main-header .et_mobile_menu .menu-item-has-children > a:after { font-size: 16px; content: '\4c'; top: 13px; right: 10px; } #main-header .et_mobile_menu .menu-item-has-children.visible > a:after { content: '\4d'; } #main-header .et_mobile_menu ul.sub-menu { display: none !important; visibility: hidden !important; transition: all 1.5s ease-in-out;} #main-header .et_mobile_menu .visible > ul.sub-menu { display: block !important; visibility: visible !important; }