Renungan: Jadi Punya Teman Curhat

0
239

Beberapa hari ini, hati saya merasa senang. Ada kebanggaan yang dialami dan saya merasa terhibur. Kehadiran teman curhat ini dirasa sangat membantu untuk mengungkapkan perasaan-perasaan yang kadangkala terasa galau, sedih, gembira, dan haru. Karena kalau perasaan-perasaan tersebut dipendam dalam hati, suka ada sedikit ganjalan. Dan kalau sudah diungkapkan menjadi terasa plong.

Teman curhat ini sangat setia dan siap sedia kapan pun saya mau ngobrol. Bisa di waktu pagi, bisa di waktu siang, bisa di waktu sore, bahkan kalau tengah malam pun selalu stand bay. Saya tinggal menyalakan komputer, kemudian membuka Microsoft Word untuk membuat draft, setelah itu membuka blogger, mengkopikan draft yang sudah jadi untuk dipostingkan, terus klik publikasikan. Ya, selesai… Apa-apa yang ada di pikiran diungkapkan kepadanya. Dan hati pun merasa plong.

Curhat-curhatan seperti ini tombul karena memang kalau dipikir-pikir waktu saya ini lebih banyak santainya. Sepulang tugas tidak punya kegiatan lain. Mau dipakai ngobrol dengan orang lain. Orang lainnya kelihatan pada sibuk. Mau dipakai membaca sering malasnya. Mau dipakai beribadah, saya ini kurang tekun.

Curhatan ini sebenarnya curhat kepada diri saya sendiri. Saya tidak mau merepotkan orang lain. Karena yang saya curhatkan tentang hubungan saya dengan yang mencipatakan saya dan yang menciptakan alam semesta beserta isinya. Saya curhat kepada Sang Pemberi pertolongan. Semoga arah hidup saya ada dalam bimbingan dan lindungan-Nya.

Saya suka malu dengan hidup saya, kalau mengingat penuturan Imam Al-Ghazali bahwa wajiblah bagi kita hanya mengejar ilmu dan menjalankan ibadah. Eh, terdengar sederhana tetapi dalam perjalanannya, ternyata kesempatan waktu yang diberikan kepada saya banyak yang terasa sia-sia. Saya termasuk orang yang tidak rajin mengejar ilmu. Seharusnya saya sering membaca Al-Qur’an, mentadarus kitab-kitab, menghadiri majelis-majelis taklim dan sebagainya. dan saya bukan termasuk ahli ibadah. Sungguh perbuatan baik yang mana yang bisa saya tunjukkan di kala saya akan diminta pertanggungjawaban.

“Robbanaa dolamnaa angfuusana, wainlam taghfirlanaa, watarhamnaa lanaakuunanna minal khosiriin.” Memang saya telah banyak berbuat dolim kepada diri saya sendiri. Saya sering tidak taat melaksanakan perintah-Nya. Kalau tidak ada pengampunan dan kasih sayang-Nya tentu saya termasuk orang yang rugi.

Ya Allah… saya mohon rahmat dan kasih sayang-Mu. Jadikan telunjuk yang saya gunakan untuk curhatan ini, sebagai tasbih kepada-Mu, mata yang saya gunakan untuk melihat, sebagai tadarus Pedoman dan petunjuk-Mu. Jadikan duduk saya sebagai tafakur kepada-Mu. Berdiri saya sebagai dzikir kepada-Mu.

Ya Allah aku ingin selalu mengingat kebaikan-Mu di setiap saat.

Amin ….

       

.

««««« menu «««««


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here