اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ -١- خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ -٢- اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ -٣- الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ -٤- عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ -٥-
Ayat-ayat tersebut banyak mengisi pemikiran saya dalam melaksanakan ziarah ke Gua Hira di awal Oktober 2015. Saya lantunkan kalam ini berkali-kali. Begitu indah dan luar biasa. Rasulullah saw. Manusia biasa seperti kita-kita. Beliau seorang yang ummi tidak bisa baca tulis. Tatkala diperintahkan membaca, Rasul menjawab, : “Maa ana biqoriin”. Saya tidak bisa membaca. Malaikat jibril memerintahkan lagi. Rasul menjawab pula, “Maa ana biqoriin.” Ketika didesak yang ketiga kalinya, Iqro/bacalah. Baru Rasulullah membacakan wahyu pertama itu.
Inspirasi yang saya peroleh dari peristiwa tersebut, adalah bahwa selayaknya sebagai hamba-Nya, pemikiran-pemikiran diisi dengan sebutan-sebutan Nama Tuhan yang telah menciptakan. Kita baca diri kita baik ke dalam maupun ke luar, kita baca sekitar kita, kita baca semesta raya. Adanya semua menggambarkan adanya Sang Pencipta.
Subhanallah, mendaki Gua Hiro menyegarkan jiwa dan raga saya. Sebagian jejak-jejak perjuangan Rasulullah itu begitu beratnya. Perjuangan Siti Khadijah yang mengantarkan makanan untuk Rasulullah begitu luar biasanya. Alhamdulillah saya diberi kesempatan untuk napak tilas dari sebagian kecil perjuangan tersebut. Lebih bergembira lagi berbarengan bersama istri.
 Dari puncak Gua Hira. Saya perhatikan karya ilahi. Matahari terbit melukis di atas langit sebagai kanvasnya. Warna-warna yang digoreskan tak tertandingi keindahannya. Dari detik ke detik. Dari menit ke menit. warna lukisan terus berubah memancarkan berbagai dimensi ruang dan waktu.
Dari puncak Gua Hira, tergambarkan masyarakat islami yang dicita-citakan Rasulullah. Ummati, ummati. Umatku, umatku. Itulah pesan Rasulullah untuk kita.
Semoga bermanfaat.
Amien ….
kecilnyaaku
Facebook Comments