Menuju Hotel Al-Tayseer Jarwal

0
21

Kisah: Rabu, 16 September 2015, sekitar pukul 00.00 Waktu Saudi pesawat yang kami tumpangi mendarat di Bandara King Abdul Aziz. Tiba di sana kami langsung menuju tempat pemeriksaan pasport. Mendapatkan arahan-arahan sambil menunggu shalat Subuh.Sebelum menuju Hotel Al Tayseer Jarwal,Ada kejadian yang membuat saya tersenyum ketika mau berangkat ke Jarwal. Semua jema’ah berbaris berdasarkan rombongannya masing-masing. Setiap rombongan berjumlah 44 jema’ah. Sehingga tersusun sepuluh barisan yang berderet. Jumlah jema’ah dalam satu kloter sebanyak 444 jema’ah berikut tim kloter.

Saya berada di barisan rombongan dua. Kebetulan mendapat tugas sebagai ketua regu, saya harus membawa anggota yang berjumlah sepuluh orang jema’ah. Saya melihat anggota sudah lengkap dan semuanya berada di barisan rombongan dua hanya saja tidak berurutan. lima orang berada di depan, saya berdekatan dengan istri, dan empat orang lagi berderet di belakang.

Tiap-tiap barisan menuju mobil masing-masing dengan nomor bis sesuai dengan nomor rombongan. Sebelum masuk, pasport dikumpulkan di petugas. Di dalam mobil semua ketua regu mengecek anggotaya masing-masing.  Ketika saya mengecek dengan seksama ternyata ada dua anggota tidak berada di mobil. Tidak tahu bagaimana kejadiannya karena ketika berbaris mereka itu yakin berada di barisan rombongan dua. Eh… ketika di bis mereka tidak ada.

Saya ke luar untuk mencari keberadaannya. Di luar sudah tidak ada lagi jema’ah. Saya mencari ke bis satu, ternyata tidak ada, kemudian ke bis tiga pun tidak ada. Saya naik ke bis empat ternyata ibu-ibu itu ada di sana dan sudah mendapatkan bagian dus nasi. Saya permisi ke pak sopir untuk memindahkan ibu-ibu tadi. Pak sopir tidak bisa memutuskan. Dan saya diantarkan ke petugas yang mengatur bis.

Untuk pertama kalinya saya melakukan percakapan dan berkomunikasi menggunakan bahasa sendiri-sendiri. Saya menggunakan bahasa sendiri, merekapun berbicara dengan bahasanya. Terjadilah interaksi yang membingungkan bagi kami. Saya ingin menyampaikan bahwa ada dua anggota yang salah masuk bis. Saya sampaikan dengan Bahasa Indonesia. Mereka tidak mengerti. Saya sampaikan dengan sedikit bahasa inggris, mereka pun malah lebih bengong. Aduh untuk urusan penting seperti ini, mengapa saya tidak mempelajari bahasa? Ada sedikit ketakutan kalau-kalau saya harus terpisah dengan anggota. Misalnya saya berada di hotel A sedangkan mereka di bawa ke hotel B.

Saya mencoba menjelaskan dengan beberapa kata bahasa arab, bahasa Inggris, dan bahasa isyarat. Ada pertanyaan yang sedikit dimengerti, dia bertanya dengan bahasa arab, Siapa kamu? Aduh sulitnya menjelaskan kepada mereka. Ada pertanyaannya mengerti, untuk menjelaskannya saya bingung. Saya ingat bahwa yang memimpin shalat disebut imam. Pemimpin juga disebut amir. Akhirnya saya ucapkan, ana imamuhum. Sambil saya mengangkat dua jari saya. Maksud saya ingin menjelaskan, bahwa saya adalah ketua regu mereka.

Mungkin mereka mengerti atau sangat bingung dengan jawaban saya, Kami berbicara nyang nyeng nyong antara satu sama lainnya. Mencoba untuk saling memahami. Kami cek pasport ibu-ibu tadi, pasportnya ada di rombongan bis empat. Mereka tidak mengizinkan untuk pindah bis. Namun mereka mencoba memberi pengertian kepada saya bahwa tenang saja, karena pada akhirnya semua rombongan dalam satu kloter sama-sama akan menuju jarwal. Semua bis ini akan menuju tempat yang sama. Saya mencoba memahami seperti itu. Dan saya pun menjadi tenang. Kejadian tadi saya laporkan kepada ketua rombongan. Dan ketua rombongan menjawab dengan senyuman.

Setelah siap semua rombongan. Bis pun mulai berjalan. Saya waktu itu tidak melihat jam. Namun diperkirakan sekitar jam 07.00 pagi. Layanan di dalam bis sangat memuaskan. Kami diberi makan, kudapan dan buku. Dan tiba di Hotel Tayseer sekitar pukul 10.00.

Kami langsung menuju tower 5. Di ruangan lobi koper besar sebagian sudah berbaris. Kami mencari koper besar tersebut sambil menunggu pembagian kunci kamar. Tak lama setelah itu ketua rombongan berdiskusi tentang nomor-nomor kunci yang telah diterima. Ada beberapa kamar yang tidak satu lantai. Di antaranya satu kamar di lantai 30 yang saya tempati. Satu lagi di lantai 25 yang ditempati kelompok ibu-ibu yang terpisah bis tadi. Dan sebagian besarnya berada di lantai 26 termasuk kamar istri saya.

Alhamdulillah dengan lapang dada anggota regu saya tidak ada yang protes. Mereka ikhlas menerima salah satu jamuan Allah sebagai tamu-Nya. Kami ikhlas ditempatkan di mana saja yang penting bisa beribadah. Dan Alhamdulillah, Allah memberikan berbagai keberkahan di Hotel Al-Tayseer Jarwal-Makkah Al-Mukarromah.

Subhaanalloh….

Leave a Reply

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here