Indahnya Hotel Al-Tayseer Jarwal

0
417

Kisah: Hotel Al-Tayseer Jarwal Saudi Arabia memiliki lima tower. Masing-masing di beri nama Tower 1, Tower 2, Tower 3, Tower 4 dan Tower 5. Dari beberapa spanduk yang saya lihat Hotel ini dihuni oleh para jema’ah haji 2015 dari berbagai kabupaten/kota. Ada yang dari Tasik Malaya, Bantul, Serang Banten, ada yang dari Kalimantan, Sumatra dan lain-lain. Kami dari Kloter 63 Kota Cimahi, ditempatkan di Tower 5.

Sebenarnya dari Hotel Al-Tayseer menuju Mesjidil Haram tidak terlalu jauh. Bisa ditempuh dengan jalan kaki tidak akan lebih dari 30 menit. di depan Hotel pun banyak kendaraan yang menuju berbagai arah. Saya pernah naik mobil, dari hotel ke Mesjidil Haram. Dan sopir hanya meminta kepada kami dua real. Begitu juga kalau kita mau mengambil miqot ke Ji’ronah/jaronah, ke tan’im atau yang lainnya tidak akan terlalu susah. Kendaraan banyak ditawarkan di depan hotel.

Saya bermaksud mengangkat tulisan ini, karena sangat terkesan dan masih terkenang bahwa beberapa bulan yang lalu. Saya pernah menempati hotel tersebut selama hampir satu bulan. Saya ditempatkan di lantai 30 nomor kamar 20. Jadi nomor kunci kamar saya 53020. Artinya tower 5 lantai 30 dan kamar 20.

Kamar tersebut banyak memberikan pengalaman spiritual kepada saya. Saya banyak bertafakur dan tak bosan-basannya di kala santai, mau tidur , sedang makan dan lainnya lebih banyak terfokus melihat ke luar. Menara jam terlihat jelas sekali. Mesjidil Haram berada di depan mata.

Di Hotel tersebut,saya sering berimajinasi tentang wajah kota Makkah Al-Mukarromah 15 abad yang lalu. Di mana Rasulullah saw. menyiarkan agama islam. Bagaimana penduduk kota Makkah kala itu. Dan beratnya perjuangan Rasulullah dalam mengemban tugas sebagai Nabi dan Rasul-Nya yang terakhir.  Peristiwa hijrahnya Rasul bersama Abu Bakar As-Shiddik ra. Yang dikejar oleh para pemuda pilihan. Sungguh hanya Allah lah yang menyelamatkannya. Terjadinya Futuhul Makkah, hingga wajah Makkah Al-Mukarromah dipilih Allah swt. Untuk menjadi tempat suci-Nya, tempat lambang-lambang keagungan-Nya.

Saya memperhatikan ke jalan, tak henti-hentinya dari pagi, siang, dan malam, hamba-hamba Allah terus bergerak menuju dan dari rumah-Nya. Saya berimajinasi bahwa di kala Nabiyullah, Nabi Ibrahim as. Tempat itu begitu sepinya, gersang, tandus dan tak berpenghuni. Air tidak seperti sekarang. Di toilet-toilet tak pernah kosong. Ada penghijauan di jalan-jalan. Ketika zamannya Siti Hajar, air itu tidak ada. Bahkan Siti Hajar harus bolak balik sampai tujuh kali hanya untuk mencari  setetes air.

Subhaanalloh, saya pernah melihat mentari pagi begitu indahnya. Setelah semalaman bersembunyi di balik bukit. Perlahan dan pasti mulai menampakkan wajahnya. Kanvas langit berubah warna seiring pergantian detik menuju menitdan menit menjadi jam. Sementara juga wajah Mesjidil Haram dan Menara Jam berubah wajah. Dan burung-burung pun mulai bersuka ria terbang di depan saya.

Kala mentari muncul, saya sempat bertanya kepadanya, tentang kabar keluarga dan kerabat di Indonesia. Saya yakin mentari tersebut telah berjalan dan melihat kerabat di Indonesia. Saya membayangkan bahwa antara Jarwal – Mesjidil Haram – Indonesia dan Indonesia – Mesjidil Haram – Jarwal itu memiliki garis yang simetris lurus. Dari ketinggian hotel itu rasanya keluarga di Indonesia begitu dekat. Majalaya – Bandung itu ada di balik bukit yang dilalui oleh matahari.

Saya sering berdo’a semoga anak-anak, keluarga dan kerabat baik-baik saja di Indonesia, disehatkan, diberkahkan, dimuliakan, dipanjangkan umurnya, diberikan rizki yang banyak agar mereka bisa bersujud di tempat-tempat lambang keagungan-Nya. Dan semoga kami diberi kemampuan kembali untuk mengunjungi Rumah-Nya.

Amin, ya Allah ….

12 Mei 2016

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here