Pulang Shalat Jum’at dari Mesjidil Haram

0
409

Kisah: Shalat jum’at di Mesjidil Haram baru saja selesai dilaksanakan. Rasa gembira pun menyertai pengalaman jum’atan kali ini. Terlihat para jema’ah mulai bergerak. Banyak yang bergerak ke luar Mesjid. Tak sedikit pula yang bergerak memasuki Mesjid Saya memutuskan untuk langsung pulang. Saya menuju tempat yang sudah dijanjikan dengan teman satu regu yang berangkat bersama-sama. Tempat tersebut adalah tangga menuju escalator As-shebka.

Beberapa sa’at saya berdiri menunggu di bawah tangga. Teman saya tidak terlihat. Sementara banyak orang yang turun tangga. Kalau terlalu lama saya menunggu di sana dapat mengganggu orang yang akan lewat. Akhirnya saya pulang sendiri. Karena kecil kemungkinan teman saya itu dapat ditemukan. Mereka bisa berpikiran sama seperti saya, tempat itu tidak mungkin di jadikan mangkal. Diam di sekitar sana akan terdorong oleh jema’ah yang ke luar. Pasti mereka pun jauh dari tempat itu dan langsung pulang.

Sementara di halaman Mesjid masih berjejal para jema’ah. Ada kelompok yang masih mempertahankan duduk, dan berjejal pula yang berjalan menuju berbagai arah. Di pintu keluar sangat macet. Karena penuhnya jema’ah ditambah dengan orang-orang yang diperkirakan dari Negara sekitar menawarkan barang dagangan sebagai oleh-oleh. Berbagai jenis barang yang mereka tawarkan.

Di pintu keluar itu saya, melihat kembali ke menara jam. Saya bermaksud menghitung waktu tempuh perjalanan dari Mesjidil Haram ke Hotel. Saya memperkirakan pulang sendiri dari Mesjid akan lebih cepat. Saya telusuri jalan yang digunakan ketika berangkat. Hotel-hotel tinggi di dekat Mesjidil haram masih terbayangkan, jembatan layang sudah dilalui, terowongan kembar, yaitu terowongan Sulaiman sudah dilewati, Sementara saya melihat jam, baru sepuluh menit. saya merasa sebentar lagi akan sampai.

Jalan saya semakin dipercepat. Beberapa jema’ah yang memadati jalan banyak yang saya susul. Saya lihat ke kanan kiri jalan. Saya ingat-ingat ketika berangkat tidak ada pohon yang tumbang. Tidak ada trotoar dan benteng yang sedikit rusak oleh pohon tumbang. Saya mulai curiga, jalan yang saya tempuh salah. Saya berhenti sejenak melihat ke Menara Jam. Sudah tak terlihat karena terhalang gedung-gedung.

Di belakang saya ada seorang jema’ah yang masih sangat muda. Usianya sekitar 20 tahunan. Orang tersebut satu KBIH dengan saya. Dia dari tadi mengikuti saya terus. Dia tahu bahwa saya memakai shal kebanggaan KBIH yang merupakan ciri, sehingga kalau dari belakang terlihat memiliki shal yang sama. Shal ini sangat membantu untuk melihat teman satu KBIH di tengah ribuan jema’ah yang berjejal.

Saya diskusikan dengan dia, bahwa jalan ini bukan menuju hotel kita. Dia pun sadar bahwa kami tersesat. Kami berjalan di posisi sebelah kanan. Seharusnya di sekitar jembatan layang itu, kami nyebrang. Karena beberapa meter dari sana ada pertigaan. Jalan ke sebelah kiri menuju sektor 8 yang merupakan maktab kami, sedangkan kalau lurus menuju sektor 7. Begitu luasnya daerah Jarwal, sehingga sektor 7 dan sektor 8 itu berada di daerah Jarwal.

Feeling kadang-kadang menyesatkan. Berdasarkan feeling kami. Hotel Taisir itu tinggal belok ke sebelah kiri. Rasanya dekat dari sana. Belokan ke sebelah kiri pun kami ikuti. Di sana sudah menunggu tiga orang jema’ah yang satu kloter. Sementara tidak jauh dari sana kami bertemu dua jema’ah lagi yang sama-sama tersesat. Jumlah kami yang tersesat menjadi tujuh orang.

Dalam perjalanan, kami berdiskusi terus tentang jalan yang akan di tempuh. Beberapa keputusan salah kami jalani. Bertanya meminta petunjuk ke beberapa orang yang berjalan pun telah di jalani dan rasanya semakin tersesat. Diskusi-demi diskusi kami sepakati. Yang akhirnya kami sepakat untuk kembali berputar arah 360 derajat.

Kami kembalikan menuju kembali Mesjidil Haram, dan ingin menemukan pertigaan di dekat gua dan terminal. Karena kalau dari sana ke hotel itu tujuh menit juga akan sampai. Kami tidak panik mengalami perjalanan yang tersesat ini. Terlihat di wajah-wajah mereka pun masih banyak tersenyum. Kami bisa duduk di trotoar jalan sambil ngobrol-ngobrol. Membuka dus makanan yang kami terima dari dermawan yang bershodakoh di sekitar jembatan layang.

Alhamdulillah kalau masalah perut tidak menjadi masalah. Walaupun tak seorang pun yang membawa makanan dari hotel. Tetapi yang namanya roti arab dengan tiga potong daging yang besar-besar bisa kami nikmati. Begitu pun kurma, air mineral tidak kami beli dari toko. Semuanya pemberian di perjalanan.

Kami berjalan santai-santai saja. Sambil memasrahkan kepada petunjuk-Nya. Akhirnya saya hapal jalan yang sering di lihat dari lantai 30 Hotel Taisir. Saya berkata dalam hati, pertigaan ini, dengan lapang segitiga dan pohon yang tingginya berkisar 1.5 m. ini sudah di sekitar hotel. Di sebelahnya berdiri Mesjid yang kubahnya sering saya lihat.

Titik terang menuju hotel sudah terlihat. Akhirnya kami sampai juga. Di depan kamar saya, sudah menunggu sang istri yang terlihat panik. Waktu sudah menunjukkan pukul 14.30 was. Sebenarnya sudah waktunya berangkat kembali untuk shalat Ashar. Tetapi kami memutuskan Ashar di maktab saja.

Peristiwa ini menjadikan pembelajaran yang berharga bagi saya. Hikmah yang saya peroleh tidak dapat diperkirakan. Yang jelas rencana Allah sangat baik. Allah memiliki strategi dan teknik yang paling sempurna untuk mengajari umatnya. Saya semakin sadar dan semoga bisa mensyukuri berbagai nikmat-Nya.

 Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here