Jum’atan Pertama di Mesjidil Haram

0
405

Kisah: Jum’at, 18 September 2015 sekitar pukul 08.10 saya bersama Bp. H. Muh. Junaedi dan Bp. H. Ru’yat berangkat ke Mesjidil Haram untuk melaksanakan shalat Jum’at. Jalanan sudah mulai ramai dilalui jema’ah. Sementara lalu lintas kendaraan pun sudah mulai tidak berani memasuki jalan tersebut.

Ketika saya sampai di halaman Mesjid saya melihat jam pada Menara jam yang besarnya tiga kali lipat jam raksasa Big Ben di London sudah menunjukkan pukul 08.30. artinya waktu tempuh berjalan kaki kami dari Hotel ke Halaman Mesjidil Haram itu sekitar 20 menit berjalan santai.

Jam tersebut berada di atas menara yang tingginya 601 m. Ada hal yang membuat saya kagum dari menara tersebut selain kemegahan bangunannya, juga warna lampunya. Pada malam hari lampunya berwarna hijau, pada siang hari berwarna putih. Dan ketika adzan, berjuta-juta lampu LED dinyalakan di bawah jam yang diikuti oleh menara-menara pada Mesjidil Haram yang katanya akan terlihat terangnya sampai jarak 28 km. Walaupun suara adzan tidak terdengar dari jarak jauh, tetapi kalau lampu ini sudah dinyalakan artinya di Mesjidil Haram sedang adzan. Pada atap menara bertuliskan lafad Allah. Sedangkan di setiap bagian bawah dari semua sisi bertuliskan lafadz-lafadz yang silih berganti.

Pada Jum’atan pertama di Mesjidil Haram ini, pintu yang saya masuki masih pintu As-Shebka No. 65. Saya berangkat ke Mesjid lebih pagi supaya masih kosong. Dan saya pikir mungpung di Mesjidil Haram, saya ingin jum’atan sambil melihat Ka’bah.

Masih terlihat di sekitar depan pintu masih ada saf yang kosong. Tetapi saya punya maksud ingin sambil melihat Ka’bah, saya terus berjalan ke depan. Baru beberapa lorong yang saya lalui, ini Mesjid sudah begitu padat. Dan masih banyak yang berjalan mencari celah kosong untuk ditempati.

Sadar Mesjid sudah penuh sesak, tidak mungkin kalau saya terus mengejar mencari tempat yang bisa melihat langsung ke Ka’bah. Akhirnya saya putuskan kalau ada sedikit saja tempat yang kosong akan saya tempati. Sementara teman saya sudah permisi kepada saya mengisi tempat yang digunakan lalu lintas berjalan untuk ditempati.

Saya sendirian terus berjalan sambil sesekali berhenti untuk melihat celah yang kosong. Sama sekali tidak ada tempat yang memungkinkan untuk sekedar titip pantat untuk duduk di Mesjid. Berjalan dan terus berjalan, akhirnya ada satu sejadah yang tidak diduduki yang empunyanya. Saya kejar sejadah itu, saya shalat tahiyatul mesjid di atasnya. Saya berdo’a, kemudian saya berdiri lagi sambil menghadap ke ka’bah dan menyampaikan do’a yang belum sempat dibaca. Banyak getaran batiniyah yang dirasakan. Kemudian tertunduk kembali untuk dhuha

Eh… ketika mau berdiri kembali ingin melanjutkan shalat, ada seseorang yang tidak tahu dari mana Beliau berasal menghampiri saya. Dengan bahasa yang sama sekali aneh, dia menunjuk-nunjuk sejadah. Saya mengerti bahwa dia telah memasangkan sejadah tersebut artinya tempat itu sudah ada yang menempati. Saya bergeser sedikit dan minta izin untuk berbagi tempat. Dia tidak mengizinkan.

Akhirnya saya berdiri di tempat itu, sambil melihat-lihat tempat di sekitar yang bisa saya tempati. terlihat tidak ada yang kosong. saya curhat kepada-Nya, Ya Allah saya datang ke rumah-Mu ini sebagai tamumu bukan sekedar hanya ingin melihat ka’bah, tetapi saya ingin juga beribadah kepada-Mu. Saya mohon izin untuk menempati runah-Mu.

Beberapa sa’at, Ka’bah yang saya lihat. Tak menghiraukan lagi dengan tempat duduk. Saya pikir saya masih bisa duduk di samping atau di belakangnya. Saya berdo’a meminta agar jema’ah di sekitar bisa geser-geser sedikit untuk berbagi tempat. Subhanalloh, ketika saya melihat ke saf depan ada yang kurang rapi, safnya tidak nyambung. karena ada beberapa orang yang duduk sembarangan. Saya maju ke saf depan dan saya duduk di tempat itu. Pada geser-geser akhirnya dua saf menjadi rapi.

Alhamdulillah, ini kuasa-Nya. Allah menjamu semua yang hadir ke rumahnya dengan jamuan yang luar biasa. Ya allah jauhkan saya dari riya.

Semoga menjadi syi’ar agar saya tidak boleh bersedih dengan rahmat-Nya.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here