Mengenang Mina Tahun 2015

0
134

Kisah: Mengenang Mina

Kami satu KBIH semuanya sudah berada di tenda kembali.

Selang beberapa jam setelah melaksanakan jumroh.

Pembimbing rombongan kami menginformasikan.

Silahkan cepat-cepat hubungi keluarga di Indonesia.

Karena kabar yang diterima di Indonesia.

Konon katanya ada sebuah tragedi.

 

Pembimbing kami tidak mengurai ada kejadian apa.

Yang saya ingat hanya mengucapkan beberapa kalimat di atas.

Dan kami pun tidak ada yang bertanya lebih jauh.

Semuanya sibuk dengan kegiatan mengisi waktu di Mina saja.

Seperti berdzikir, berdo’a, membaca Al-Qur’an, bertafakur.

 

Pengumuman Pembimbing membuat kami penasaran.

Tak terkecuali saya.

Saya ingin secepatnya memberi kabar ke keluarga.

Bahwa kami baik-baik saja.

Pas di cek, eh pulsanya habis.

Hingga hubungan dari Indonesia pun tidak bisa masuk.

 

Saya tidak memiliki keinginan untuk meminjam HP teman-teman.

Di situasi seperti itu, saya tidak ingin mengganggu yang lain.

Saya takut ada sesuatu yang mengganjal di hati mereka.

Saya ingin menjaga kesucian keikhlasan mereka.

Dan tidak menciptakan hal sekecil apa pun yang membuat ibadahnya batal.

 

Setelah melaksanakan shalat maghrib yang dijama dengan isya.

Saya mengajak istri jalan-jalan.

Bermaksud mengisi pulsa.

Susahnya bukan main. Ditambah dengan ketidak mampuan berbahasa.

Pulsa yang dicari tidak ditemukan.

Saya pun tidak bisa menghubungi ke Indonesia.

 

Satu hal yang terasa nikmat ketika jalan-jalan.

Yaitu adanya hujan. Hujan di sana berbeda dengan hujan di Indonesia.

Ketika saya menengadah ke atas. Banyak cahaya yang berjatuhan.

Saya tidak tahu apa itu? Tetapi setelah sampai ke bawah ternyata air.

Oh ternyata ini hujan. Saya dan istri pun mencoba menangkap beberapa butiran air hujan.

Subhanalloh, nikmat memandang langit dengan butiran-butiran bercahaya berupa air hujan.

 

Saya pun jadi lupa ingin menghubungi keluarga.

Ingat-ingat ketika sudah ada di hotel.

Ada jama’ah yang dihubungi oleh keluarga.

Bukan main gembiranya saya.

Saya cepat-cepat minta diisi pulsa.

 

Mulai saat itu ada hubungan dengan keluarga.

Ya keluarga …. Keluarga besar yang begitu besar menyayangi saya dan istri.

Yang telah beberapa hari dicercar dengan derasnya informasi di Tanah Air.

Padahal kami yang berada di Mina sama sekali tak terinformasikan.

Terbayang bagaimana mereka waktu itu.

 

Ayah saya menelepon, suaranya tak terlupakan.

Ibu saya menghubungi, tangisan do’anya begitu meresap ke dalam qolbu.

Di Maktab saya menerima telepon tersebut sambil menghadap Mesjidil Haram.

Hotel Taisir jarwal lantai 30 kamar 20.

Tempat yang penuh barokah. Saksi penghambaan kami kepada-Nya.

 

Semoga yang menjadi korban tragedi.

Allah menerima ibadah haji mereka.

Diampuni dosa-dosanya.

Ditempatkan di tempat yang paling mulia di sisi-Nya.

Keluarga yang ditinggalkan.

Diberi keikhlasan, kesabaran dan ketawakalan.

Semoga Allah senantiasa memberi kesempatan kepada kita untuk bersujud di depan Tugu Kerajaan-Nya.

Amin.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here