Hari Pertama di Mesjidil Haram

0
368

Kisah: Saya berlindung kepada Allah dari riya yang merupakan sifat syetan makhluk terkutuk. Saya ingin mencritakan salah satu kebaikan-kebaikan Allah, terutama tntang pengalaman hari pertama di Msjidil Haram. Semoga peribadatan yang sudah kita lakukan tidak sia-sia dan dicatatnya sebagai amal kebaikan.

Pengalaman pertama memasuki Mesjidil Haram, yaitu ketika thawaf qudum.

16 September 2015. Turun dari Hotel pukul 21.00, berkumpul di ruang Lobi dulu.

Dan mulai memasuki Mesjid sekitar pukul 21.30.

Keluar dari mesjid setelah melaksanakan rangkaian thawaf, sa’i dan tahalul sekitar pukul 01.30.

Kami diam-diam dulu di halaman Mesjid sehingga tiba ke Hotel kembali sekitar pukul 02.30.

Lamanya lama dalam rangkaian thawaf tersebut karena jumlah kami 111 jema’ah.

Banyak kondisi yang harus dipersiapkan dengan matang.

Kami satu KBIH berangkat berjama’ah. Ketika pertama kali menginjakkan kaki ke Mesjid..

Hal yang sudah diduga lautan manusia benar-benar tidak ada bandingannya.

Karena waktu itu puncak-puncaknya pelaksanaan ibadah haji.

Jama’ah dari berbagai Negara sudah berkumpul.

Dan kebetulan kami termasuk kloter hampir paling akhir.

Teknik thawaf yang sudah dipraktikkan KBIH dalam latihan benar-benar dilaksanakan.

Laki-laki yang kuat memagari ibu-ibu dan bapak-bapak yang sudah berusia.

Hingga Alhamdulillah tidak ada jama’ah yang terpisah dari rombongan.

Sampai tengah malam thawaf, sa’i dan tahalul kami laksanakan.

Untuk yang kedua kalinya kami ke Mesjidil Haram pergi berempat.

Saya, istri saya dan dua ibu-ibu satu kelompok.

Ketika itu mau melaksanakan shalat ashar, maghrib dan isya.

Kami berangkat pukul 14.00 was. dan pulang sekitar pukul 21.00.

Pintu yang kami masuki adalah pintu As-shebka Escalator No. 65.

Dalam menunggu shalat Isya.

Saya melihat istri saya tidak ada di tempat duduknya.

Saya tanyakan kepada ibu-ibu yang bersama tadi.

Konon katanya istri saya mau ke toilet juga.

Saya merasa khawatir dan segera mencarinya.

Tak lama istri saya pun saya temukan.

Dan kami berangkat mencari toilet.

Setelah bertanya dengan bahasa seadanya, ternyata banyak yang menunjukkan bahwa toilet tidak ada di dalam mesjid, tetapi harus ke luar di halaman Mesjid.

Salah satu yang kami tanyakan adalah petugas kebersihan Mesjid orang Filipina yang ternyata pasih berbahasa Indonesia.

Berdasarkan petunjuknya kami pun ke luar lewat pintu As-Shebka juga.

Setelah melewati escalator dan sampai tangga ke luar.

Subhanalloh, lautan manusia memadati halaman Mesjidil Haram.

Halaman yang begitu luas sampai Hotel Darut Tauhid itu terlihat tak ada yang kosong.

Banyak orang berdiri mengantri pintu Mesjid apabila diperbolehkan bisa masuk.

Setiap pintu Mesjid ada peringatan boleh masuk dan tidak boleh masuk.

Apabila di dalam sudah ada yang kosong, peringatan diperbolehkan masuk pun menyala.

Melihat begitu berjejalnya di luar, kami tidak jadi pergi ke toilet.

Kami putuskan untuk berada di dalam mesjid sampai shalat Isya.

Kami minta kepada Allah agar kami dikuatkan dari kebutuhan untuk pergi ke toilet.

Malah kami mohon lupa dulu sebentar untuk membuang air besar.

Alhamdulillah rasanya do’a kami terkabul.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here