Ma’af, Mungkin Inilah yang Paling Ikhlas

0
201

Ma’af, Mungkin Inilah yang Paling Ikhlas

Kala sang perut mulai berkata

Tak ada kata nanti atau sabar

Semakin dinanti, semakin tak sabar

Semakin disabari, semakin memaksa

Wajah seketika berubah wujud

Andai peut berkata, “Cepat, cepaat, cepaaat…!”

Si cantik bagai kucing telah tenggelam

Si ganteng bagai singa di tengah lumpur

 

Perut kalalu mau diisi, masih bisa disabari

Isi perut kalau sudah mau keluar

Tengah malam dengan kuntilanak tak masalah

Waktu pagi hari apalagi

 

Isi perut kalau sudah memaksa ke luar

Jangankan kucing yang sedang tidur

Lemari besi pun dibanting

Asal segera dapat menunaikan hajat

 

Ngisi perut atau buang isi

Tak memandang waktu, tempat dan situasi

Semua dikerjakan dengan sepenuh hati

Ikhlas tak memandang duri

Kemana pun kau mau pergi

Please deh … Good by ….

Ini Paling Ikhlas

 

Kecilnyaaku

 

Pengorbanan

Untuk kali ini bentuk rasa syukur dan pengabdian yang bisa saya tunjukkan kepada-Nya mungkin hanya shalat.

Soalnya puasa yang diwajibkan hanya satu bulan dalam satu tahun.

Zakat bila ada yang harus dikeluarkannya.

Ibadah haji kalau mampu diperjalanannya.

Kita diperintah shalat itu karena Allah sangat sayang kepada kita.

Kita ini kan mau disayangi Allah.

Kita ini tidak mau dibenci Allah.

Allah sayang kepada yang suka melaksanakan shalat.

Celaka bagi orang yang suka melalaikan shalat.

Shalat itu tidak sulit.

Ah … kalau begitu?

Saya mau belajar sungguh-sungguh.

Mau belajar bersyukur kepada-Nya.

Kepada Allah yang telah memberikan waktu dengan berbagai fasilitasnya.

Udara yang dihirup, betul-betul gratis.
Allah tak pernah memungut pajak darinya.

Sepantasnya ya saya berterima kasih kepada-Nya.

Meluangkan waktu yang mungkin hanya 5 menit setiap waktunya.

5 menit kali 5 waktu, cukup 25 menit saja.

Tidak lama kok dari waktu seharinya 24 jam x 60 menit = 1.440 menit.

Kurang lebih 25 menit saja dari 1.440 menit.

Tidak akan mengganggu aktifitas ya….

25 menit ini kebutuhan pokok yang tidak bisa ditinggalkan.

Karena kalau ditinggalkan berbahaya untuk saya sendiri.

Dalam kondisi apapun dan bagaimanapun harus dilaksanakan.

Mengapa saya bisa meninggalkan teman kalau mau pipis.

Bahkan saya bisa bangun dikala tidur sedang nyenyak.

Kalau beliau yang berada di perut sudah menuntut dikeluarkan.

Begitu pun untuk shalat.

Saya harus bisa mengorbankan segalanya.
Lebih malu ah kepada Allah.

 

kecilnyaaku

.

««««« menu «««««

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here