Saya sudah sangat fokus ingin menulis sesuatu. Beberapa ide sudah dibayangkan sebelumnya. Maklum yang baru membuka sebuah blog banyak ide-ide yang ingin dituangkan dan disimpan di blog. Ada ide ingin menulis ke-Maha Esaan Allah, ide ingin menulis hal-hal tentang pertolongan-Nya, ide ini, ide itu pabaliut mengisi otakku.

Saya memilih ide-ide semacam itu, maksudnya ingin memberikan pelatihan ke dalam diri saya untuk lebih mengenal diri sendiri dan lebih mengenal-Nya. Karena banyak hal yang ternyata belum saya syukuri. Padahal usia saya hampir setengah abad. Saya pikir barangkali bisa mempengaruhi kesadaran dan ketaatan saya kepada Sang Maha Pemberi.
Sementara, jari jemari sudah siap menempel di atas keyboard. Ih…. Si jari tidak mau bergerak. Beberapa saat bengong di depan komputer. Berpikir kalimat apa yang pertama kali ingin ditulis. Memang susah banget mengawali sesuatu. Akhirnya saya putuskan dari pada jari saya nganggur, lebih baik dimanfaatkan untuk menulis apa saja yang muncul di otak. Hingga beberapa kalimat yang tidak nyambung  bercecer mengisi monitor.
Setelah dibaca ternyata kalimat-kalimat itu sangat membantu mengawali menulis. Saya fokuskan kepada kalimat-kalimat yang memiliki ide yang sama. Kemudian terus dikembangkan. Alhamdulillah mulai terlihat menemui titik terang yang sedikit demi sedikit terangkai menjadi kalimat utuh.
Setelah beberapa kalimat tersusun sejenak muncul beberapa pertanyaan, “Apakah yang saya tulis ini puisi, cerpen, artikel, ulasan, atau apa?” Saya takut ada yang menanyakan. Untung kegalauan itu tidak terlalu lama atau membuat buntu terhadap tulisan. Saya ingat ketika sekolah dulu, ada teman saya membacakan “Puisi Aing Puisi Sia.” Sebuah puisi Berbahasa Sunda yang waktu itu saya benci dengan judul dan isinya, karena bahasa sunda yang digunakan sangat kasar. Dalam bahasa Indonesia bahasanya biasa saja. Artinya Puisiku, Puisimu.
Karena kekasarannya, puisi tersebut  masih terngiang-ngiang di benak.  Tetapi justru puisi dengan karakter yang kuat tersebut sekarang dapat membantu untuk menyelesaikan tulisan. Saya tidak lagi takut ini, takut itu. Saya sadar, mengapa harus takut dengan pikiran-pikiran penghalang. Tulisannya saja belum jadi ko ….. biar orang mengatakan itu bukan puisi, itu bukan cerpen, bukan artkel, harus gini, harus gitu. Selama menulis saya abaikan pikiran-pikiran penghalang itu! ketika muncul hal serupa, saya Ingat saja “Puisi Aing Puisi Sia.” Karena Puisiku ya Puisiku, Puisimu ya itu puisimu, motorku ya motorku walau bannya bengo sekalipun, itu motorku.
Waktu menulis saya fokuskan menyampaikan ide sampai selesai. Saya tak memperhatikan panjang atau pendeknya kalimat. kalau ide sudah dianggap selesai, ya sudahlah. Masalah penilaian masalah nanti kalau sudah selesai. Jelek-bagus, berkualitas-tidak berkualitas, bermanfa’at-tidak bermanfa’at nanti kalau tulisan sudah jadi bisa dibicarakan. Yang terpenting saya berihtiar dulu menuliskan ide-ide, hasil bukan saya yang menentukan. Sebuah filosofi saja mengajarkan. Banyak orang yang pergi bekerja. Berangkatnya pada jam yang sama. Masuknya sama. Pulangnya pun pada jam sama. Ketika istirahat, sama-sama istirahat. Ternyata hasilnya atau keuntungannya tidak sama
Jadi, saya berprinsip menulis saja dulu. Sementara kesalahan-kesalahan cetak atau persepsi, peningkatan kualitas dan kebermaknaan masih ada alat edit.  Dan saya yakin masih banyak orang yang baik yang akan memberi masukan dan pendapatnya.
kecilnyaaku
Facebook Comments

Share This Article