Sore itu aku duduk di beranda. Tak terasa air mataku mengalir deras. Badanku terasa lemah, lesu, tak bersemangat. Seharian aku membersihkan bekas banjir. Dengan rasa malas, kulihat lantai rumah masih berlumpur. Benteng pagar yang terbongkar, hampir setengahnya. Dinding belakang rumah yaitu dinding dapur masih retak menganga. Genting yang jatuh masih berserakan. Duduk sendiri sambil termangu.

Tetanggaku ada yang bilang, bahwa aku gadis tegar dan pemberani walau baru kelas VII SMP, tetapi sebenarnya hatiku selalu menjerit memecah langit, aku sering bertanya dalam hati, “Ayah di mana dirimu?”, “Ibu pulanglah, sebentar saja!”. Aku teringat sang ayah yang hanya dikenal waktu aku masih duduk di kelas III SD. Masih segar dalam ingatan, malam itu ayah dengan perlahan membangunkan dan menggendongku ke rumah nenek yang juga sama-sama kena banjir, tetapi masih terasa aman. Karena selain tempatnya agak tinggi, juga rumahnya masih terlihat agak kokoh.
Hatiku terus menerawang mengingat sang ayah. Walau ada sedikit kesal dan benci, tapi rindu ini sudah tak tertahankan lagi, “Ayah, mengapa kau tega tinggalkan aku? Di mana Ayah? Aku ingin berjumpa sebentar saja”. Aku bertanya kepada angin, “Wahai angin, aku percaya kau telah merantau ke mana-mana, tahukah kau di mana ayahku? Tolong sampaikan kerinduanku kepadanya!”
Sementara, hari semakin sore. Seluruh langit tertutup awan mendung. Kilatan petir memantulkan cahaya di kiri kananku, dan hujan pun mulai turun rintik-rintik. Aku masih duduk di beranda. Hatiku semakin menjerit menyayat hati, sakit bagai tersayat sembilu, hingga sesak bagaikan tak bernapas, menangis melolong-lolong, merobek-robek gelapnya sore, sungguh kepedihan yang luar biasa meluap-luap.
Aku menjerit kepada Ibu yang sudah dua tahun bekerja sebagai TKW di Arab Saudi. “Ibu, tolonglah aku! Rumah ini mungkin mau runtuh Bu. Bekas banjir kemarin, dan hujan kali ini, aku sangat takut malam ini Bu. Harus dengan apa kutahan lagi air hujan dari atas, dan aliran air bah dari lorong-lorong gang rumah. Harus bagaimana aku, Bu? Tolonglah anakmu ini Bu!”
Hujan semakin lebat tak mau berhenti. Kulihat tetangga sudah mulai sibuk memasang papan penyangga banjir di benteng-benteng rumahnya. Sementara aku masih diam saja, duduk melamun. Tadinya aku mau pasrah saja. Karena pintu pagar mau dipasangkan papan penyangga banjir, bentengnya sudah roboh. Dinding yang retak bekas banjir kemarin harus ditutup dengan apa? Tak lama kemudian, dari arah barat, air mulai mengalir perlahan. Aku sadar dan mulai bangkit. Aku pikir terlalu enak air mengalir leluasa ke rumahku.
Dengan semangat ’45 aku berjuang melawan air sendirian. Walau badan gemetar menggigil, baju basah kuyup. Papan penyangga banjir kupasangkan di tembok yang sudah runtuh. Dengan sekuat tenaga bantalan pasir yang terbungkus karung kuangkat ke tembok, sungguh aku tak kuat. Aku minta bantuan tetangga yang juga sedang sibuk memasangkan apa saja untuk menahan air. Aku bergegas mengambil karung, bebututan, kardus dan semua yang bisa digunakan untuk menutupi lubang-lubang tembok dapur dan kloset. Ya, kloset yang selalu paling menjadi masalah, ditutupi dengan apa saja airnya selalu berhasil merambah dapur. Dan aku selalu mengeruk rembesan air untuk dibuang ke luar. Berjuang dan terus berjuang. Akhirnya selesai juga. Kini air mengalami kesulitan menembus rumahku. Aku mulai lega dan sedikit bisa bernapas.
Detik demi detik, menit demi menit kuperhatikan perkembangan ketinggian air. Semakin lama semakin tinggi sudah hampir melewati papan penyangga. Ketakutanku semakin menghantui. Sementara panggilan sholat magrib mulai berkumandang dari mesjid-mesjid. “Ya Allah, tahanlah air ini! Janganlah Kau suruh air ini memasuki rumahku!” dan aku pun masuk rumah untuk mengambil air wudlu.
Setelah shalat, aku bergegas ke luar. Aku berdiri kaku. Bibirku membisu tak percaya air berlari begitu cepat hari ini. Masa Allah, sudah naik pagar dan sedikit demi sedikit mulai menyerbu pintu rumah.
Tak lama kemudian aku mendengar suara gebrakan, keras sekali. “Brah….” “Astaghfirullahal’adzim dinding dapur roboh”. Air dari belakang rumah memaksa ingin bergabung dengan air di depan rumahku. Dan menyapu kursi butut di tengah rumah, melabrak meja tempat menyimpan tas dan buku-buku pelajaran, menghantam lemari kecil yang di atasnya tersimpan baju dan sepatu sekolah, memecah kaca dan menghancurkan rumah.
Allahu Akbar, air begitu kasar. Aku diseretnya sampai terhempas ke dekat pohon. Sambil memegang pohon, kutatap baju sekolah, tas, sepatu, buku-buku pelajaran melangkah pasti terbawa banjir seolah berucap permisi, “Selamat tinggal kawan”.
Sekuat tenaga aku berusaha mencegah kepergian alat-alat sekolahku. Aku berteriak, tangisku sulit dibendung. Aku meronta-ronta hendak mengejar. Tetapi badanku terasa terkunci tak bisa kulangkahkan. Aku kesal pada air yang telah mengobrak-abrik seisi rumah.

Sumber inspirasi kegiatan home visit

Facebook Comments